Rabu, 11 Mei 2011 By: sanggar bunga padi

Kantring Genjer-Genjer [dari kitab kuning sampai komunis] bagian 9

Oleh: TEGUH WINARSHO AS *

EMPAT
IBU, mungkin ini adalah kepulanganku yang terakhir setelah sembilan tahun lebih meninggalkan Panjen. Sembilan tahun terasa lama sekali hingga aku merasa asing dengan kampung kelahiranku sendiri. Banyak yang berubah di Panjen yang tidak aku ketahui. Kenapa kau tak pernah mengabariku, Ibu? Atau aku yang salah karena tak pernah pulang? Ketahuilah, di sini aku merasa kesepian dan juga takut. Aku seorang prajurit tapi aku belum pernah merasa takut seperti saat ini. Ah, di mana Ki Sangir atau Kyai Barnawi. Siapa Ayah kandungku sesungguhnya? Aku belum ketemu dua orang itu. Aku baru ketemu sosok iblis perempuan yang memperkosaku pada suatu malam bertabur gerimis dan seorang laki-laki pengangkut batu di hari-hari terakhir menjelang kematiannya.

Dan inilah kelanjutan cerita laki-laki tua pengangkut batu di hari kedua sebelum malaikat maut menjemputnya:

Sadikin mulai menjalankan rencananya membunuh Ki Sangir. Rencana kedua, yaitu menggoda Ki Sangir dengan lonte paling cantik. Sadikin keluar masuk dusun mencari perempuan nakal bahenol. Tapi hingga tiga hari tiga malam ia belum menemukan perempuan yang bersedia melayani sahwat Ki Sangir sekaligus membunuhnya. Mereka takut dengan kesaktian Ki Sangir. Alih-alih dapat bayaran tinggi tapi justru kematian yang didapat. Akhirnya Sadikin menjalankan rencana ketiga, yaitu mengintai Ki Sangir saat tidur lelap. Ia akan menyergap dan mengikat tubuh Ki Sangir sebelum dipacak pada empat ekor kuda jantan. Tapi rencana ini pun gagal. Sadikin baru tahu rupanya Ki Sangir jarang tidur. Meski tidur tapi matanya tetap melek. Sadikin kemudian menjalankan rencana ke empat. Memberi Ki Sangir tuak paling memabukkan. Tapi rupanya Ki Sangir tidak ada di padepokan. Ia tergoda mencicipi tuak itu sendirian.

Tanpa sepengetahuan Sadikin, Ki Sangir duduk bersila di dalam kamarnya, khusuk membaca mantra: pati-pati geni lemah-lemah abang banyu-banyu segara ngumpula ing manah ingsun nggagrak kaya bledek mangsa mustaka sira ngampleh semplak jumplat-jumplit ngrambang kaya mayit balio-balio nang asal sira lemah abang jabang bayi! 11x tanpa menarik napas. Lalu menusuk-nusuk kertas bergambar Sadikin. Merasa belum puas, Ki Sangir mengulangnya sebanyak tiga kali.

Para cantrik di padepokan tiba-tiba geger mendapati Sadikin yang sedang mencicipi tuak tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang, matanya terbeliak. Para cantrik mengira Sadikin mabuk berat. Beberapa cantrik segera melesat ke pucuk pohon kelapa, memetik beberapa butir kelapa ijo. Tapi saat Sadikin minum air kelapa itu justru muntah darah. Para cantrik semakin panik. Tubuh Sadikin terus kejang-kejang, bergulungan menahan sakit luar biasa. Mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanya napas tersendat-sendat. Detik-detik kematian Sadikin seperti sudah dekat. Beberapa cantrik diam-diam mengerahkan ilmu tenaga dalamnya, tapi tetap tak berhasil membantu Sadikin. Akhirnya mereka hanya pasrah menatap Sadikin yang sekarat.

Pada saat kritis itu tiba-tiba Ki Sangir muncul. Para cantrik segera memberi jalan pada Ki Sangir. Ki Sangir menghampiri Sadikin yang napasnya tinggal satu-satu. Menatap Sadikan dengan wajah iba lalu menunduk mencium telinganya seperti ingin mengobati, tapi sesungguhnya berbisik kasar: “Mampus sampean!” Lalu berdiri menatap para cantrik, menggosok-gosok mata, sedih dan murung. “Para cantrikku…” Ki Sangir berhenti sejenak seolah kesedihan membuatnya sulit berkata-kata. “Sadikin sudah tak bisa diselamatkan lagi. Ada santet di dalam tubuhnya yang memiliki kekuatan dahsyat. Aku tidak tahu siapa yang mengirim. Tapi siapa pun dia pasti orang yang sangat sakti. Kita berdoa saja semoga Sadikin cepat mati dari pada menanggung kesakitan sementara kita tak bisa menolong. Semoga di akherat nanti Gusti Allah memberi Sadikin ganjaran yang setimpal sesuai perbuatannya di dunia. Baiklah, berdoa mulai… Ila arwahi…” Ki Sangir menundukkan kepala komat-kamit diikuti para cantrik. Tapi tiba-tiba Sadikin melolong sambil menunjuk-nunjuk Ki Sangir dengan wajah kebencian.

“Maaf, Ki, sepertinya Sadikin belum mau mati,” ucap seorang cantrik membuyarkan konsentrasi cantrik lain yang sedang berdoa.

Ki Sangir menoleh menatap Sadikin. Ada senyum sinis di sudut bibirnya. Tapi hanya sebentar, takut ketahuan para cantrik. “Kalau begitu kita batalkan doanya. Tapi firasatku mengatakan Sadikin tak akan bertahan lama. Aku sungguh-sungguh tak tega melihatnya. Bagaimanapun Sadikin adalah orang tua kita, pendiri padepokan ini. Aku sangat sayang padanya tapi aku juga benar-benar tak tega melihat dia tersiksa…” Berkata begitu Ki Sangir pergi meninggalkan padepokan. Sadikin terus menunjuk-nunjuk Ki Sangir. Mulutnya tak kuasa lagi bersuara. Tiga orang cantrik kemudian menggotong Sadikin ke dalam bilik.

Sampai dua hari Sadikin masih belum mati, meski ususnya terburai, perutnya bolong mengeluarkan paku, gotri, pisau, jarum dan potongan-potongan besi berkarat. Diam-diam para cantrik kembali mengakui kesaktian Sadikin yang tidak mudah mati. Sadikin sendiri sebenarnya ingin lekas mati dari pada hidup menanggung kesakitan luar biasa. Mungkin inilah siksaan terberat dalam hidupnya. Di tempat lain Ki Sangir kembali mengirim santet untuk Sadikin. Membuat tubuh Sadikin kejang-kejang hebat dan bergulungan. Tapi Sadikin tetap belum mati. Empat hari kemudian Sadikin tak kuat lagi menanggung siksaan. Ia memanggil para cantriknya.

“Aaantarkan…aaku..” Suara Sadikin terbata-bata. Wajahnya hanya kulit dan tulang. Mulutnya mengsol ke kanan kiri berlepotan nanah. “kke…ppepe..santren Bbarnawi…”
Para cantrik terkejut mendengar permintaan Sadikin. Mereka heran saling berpandangan. Beberapa cantrik tiba-tiba memegang telinganya kawatir ada yang tidak beres dengan alat pendengarannya. Karena masih belum terlalu yakin, seorang cantrik menyuruh Sadikin mengulang ucapannya. Sadikin melotot seperti marah, tapi akhirnya dengan susah payah ia bisa mengulang lagi kata-katanya. Kini para cantrik baru percaya. Sadikin minta diantar ke rumah Kyai Barnawi. Kembali para cantrik saling berpandangan dalam kebisuan mencekam di ruangan pengap bau bangkai. Hingga seseorang angkat suara. “Sebaiknya kita laksanakan saja permintaan Sadikin. Siapa tahu ini permintaan terakhirnya…”

“Tapi bagaimana kalau Kyai Barnawi menolak?” tanya seorang cantrik gusar sedikit takut.
“Kukira tidak.”
“Apa ora nunggu Ki Sangir sikik?”
“Sudah dua hari Ki Sangir mengurung diri di kamar tak mau diganggu. Apa sampean bisa menjamin Sadikin masih bertahan sampai Ki Sangir datang?”
“Oh…ora-ora! Aku ora wani. Soale kayane Sadikin wis arep modar…
“Terus bagaimana?”
“Kita laksanakan saja perintah Sadikin.”
“Terserah sampean. Tetapi sepisan maneh aku ora tanggungjawab kalau Ki Sangir marah.”
“Dasar cecunguk. Penakut!”
Ora ngono. Aku wedhi dihukum Ki Sangir dijemur nang kali. Mengko awakku gosong. Aku durung kawin…
“Sudah! Sudah! Aku yang bertanggungjawab. Ayo kita angkat!” (bersambung)

*) TEGUH WINARSHO AS, lahir di Kulonprogo, Yogyakarta, 27 Desember. Buku-bukunya yang sudah terbit, kumpulan cerpen Bidadari Bersayap Belati (Gamamedia, 2002), Perempuan Semua Orang (Arrus, 2004), Kabar dari Langit (Assyamil, 2004), Tato Naga (Grasindo, 2005), dan novel: Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi mekah (Bening Publishing, 2005), Jadikan Aku Pacar Gelapmu (Arrus, 2006). Novelnya: Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian sore Suara Pembaruan (2000), Orang-Orang Bertopeng dimuat di Sinar Harapan (2002), Purnama di Atas Jakarta dimuat Republika (2005). Kini mengibarkan bendera dengan nama penerbitan Lafal Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...