Kamis, 31 Maret 2011 0 komentar By: sanggar bunga padi

Tips Membuat Film Pendek

Membuat film kita lebih OK!. Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dalam membuat film pendek. Dengan mengikuti langkah-langkah yang akan diuraikan ini, maka kita dapat mengurangi beberapa hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Meskipun begitu, ini merupakan saran-saran saja, dan dapat dikembangkan berdasarkan keahlian dan pengalaman. Take a look..

1. Apakah film Anda layak ditonton? Sebelum semuanya dimulai, maka selayaknya kita bertanya: apakah semua orang pasti menonton film yang akan kita buat? Jawabnya, No! Artinya tidak semua orang ‘pasti’ akan menonton film kita. Sebelum menulis skenarionya, mari tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu; mengapa orang harus menonton film yang akan kita buat.

2. Jangan mulai produksi tanpa adanya budget film. Meskipun sederhana sangat membutuhkan biaya! Besar biaya memang tidak terbatas, bisa besar bisa kecil. Dengan membuat prakiraan biaya (budget), maka kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan dengan uang yang dimiliki. Produksi tanpa budget menyebabkan rencana-rencana tidak bisa diprediksi. Apalagi jika uang yang tersedia tidak mencukupi, bisa-bisa film yang sedang dikerjakan tidak selesai-selesai.

3. Minta persetujuan pihak-pihak yang terlibat. Sebelum shooting dilakukan, ada baiknya meminta persetujuan tertulis dari pihak-pihak yang terlibat didalam film, seperti aktor/aktris, music director, artwork, sponsor, atau siapa saja yang ingin berkontribusi. Bereskan dulu semua ini. Karena kalau memintanya saat shooting dimulai, maka ‘kemangkiran-kemangkiran’ dari pihak-pihak tersebut akan terasa sulit dimintakan pertanggung jawabannya. Maka, do it Now!

4. Buatlah film pendek yang memang pendek. Penulis naskah dan/atau sutradara harus bisa memenuhi standar yang menyatakan bahwa sebuah film adalah film pendek. Bertele-tele dalam penyajiannya akan membuat penonton bosan. Jika itu film pendek..maka harus pendek. Meskipun sulit, tapi memang harus begitu. Standar film pendek adalah maksimal berdurasi 30 menit!.

5. Jika memakai aktor yang tidak professional, maka lakukan casting. Tidak lepas kemungkinan film pendek dibintangi oleh aktor/aktris yang tidak professional (amatir). Ini sih wajar-wajar saja. Apalagi mereka (mungkin) tidak dibayar. Tapi untuk memilih karakter-karakter pemain yang sesuai, wajib melakukan pemilihan peran (casting). Jangan memilih orang sembarangan apalagi casting baru akan lakukan beberapa saat menjelang shooting. Berbahaya!

6. Tata suara sebaik-baiknya. Tata suara yang buruk pada kebanyakan film pendek (meskipun memiliki konsep cerita menarik) menyebabkan tidak nyaman ditonton. Gunakan perangkat pendukung tata suara seperti boom mike untuk mendapatkan hasil yang baik. Kalau gak punya, iya beli lah atau minimal pinjam aja…

7. Yakin OK saat shooting, jangan mengandalkan post-production. Saat ini semua film kebanyakan dikerjakan dengan kamera digital. Maka tidak sulit untuk memeriksa apakah semua hasil shooting sudah memenuhi sarat atau belum dengan melakukan playback. Periksa semua frame dialog, tata suara, pencahayaan atau apa saja. Apakah sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan? Sangat penting; periksa setelah shooting, bukan pada saat pasca produksi.

8. Hindari pemakaian zoom saat shooting. Kameraman yang baik adalah yang bisa mengurangi zooming. Kecuali bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Mendapatkan gambar lebih dekat ke objek sangat baik menggunakan dolly, camera glider, atau lakukan cut and shoot!.

9. Hindari pemakaian efek yang tidak perlu. Sebuah film pendek banyak mengandalkan efek-efek seperti; memulai film dengan alarm hitungan mundur (ringing alarm clock), transisi yang berlebihan seperti dissolves/wipe, dan credit titles yang panjang. Pikirkan dengan baik, apakah hal-hal ini perlu ditampilkan atau tidak. Pilihan yang sangat bijak jika semua itu tidak terlalu berlebihan.

10. Hindari shooting malam di luar ruang. Suasana gelap adalah musuh utama kamera (camcorder). Pengambilan gambar diluar ruang pada malam hari sangat membutuhkan cahaya. Apabila tidak menggunakan lighting yang cukup maka hasilnya akan jelek sekali. Meskipun dapat melakukan color correction pada saat editing, tapi sudah pasti dapat menyebabkan noise dan kualitas gambar menjadi drop. Paling baik adalah merubah skenario menjadi suasana siang hari. Tidak akan mengganggu cerita toh?.(Iman'z Tetap Berjuang)
Selengkapnya...

Yuk, Berlatih Meresensi Buku!

 Banyak hal perlu diketahui tentang resensi, mulai dari panduan hingga catatan yang perlu diperhatikan dalam menulis resensi. Resensi itu berbeda dengan ringkasan.
Tidak ada buku yang tidak bisa diresensi. Bagi para siswa, belajar meresensi buku sangat menyenangkan dan tidak sulit untuk memulainya.
Resensi itu lebih dalam, deskriptif, dan harus ada evaluasinya.

Demikian diungkapkan pengasuh rubrik Pustakaloka di Harian Kompas, Shinta Ratnawati, saat membawakan acara pelatihan resensi buku di acara Kompas Gramedia Fair (KG Fair) 2011 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Diadakan oleh tim pengasuh Pustakaloka, Harian Kompas, peserta pelatihan ini sangat beragam dan dari berbagai usia, yang bahkan tampak beberapa peserta kalangan siswa SMP.

Shinta menjelaskan, banyak hal perlu diketahui tentang resensi, mulai dari panduan hingga catatan yang perlu diperhatikan dalam menulis resensi. Menurutnya, resensi berbeda dengan ringkasan.

"Resensi itu lebih dalam, deskriptif, dan harus ada evaluasinya," ujar Shinta.

Ia menambahkan, sebuah resensi buku harus memaparkan seluruh isi buku tersebut. Resensi itu juga harus menjawab, apa dan mengapa buku itu diresensi.

Shinta juga menjelaskan, resensi buku sifatnya harus independen, tidak boleh ada unsur promosi. Jika bagus harus bilang bagus dan jangan menutupi kekurangan obyek yang diresensi. Bahkan, ada baiknya sebelum dipublikasi dilakukan penyuntingan terhadap resensi buku itu.

"Jika berfikir bahwa sekali menulis itu sudah cukup untuk dipublikasi, itu salah," kata Shinta.
Sumber: Kompas.com
Selengkapnya...

Aku Bukan Sekuntum Bunga (bagian 3)


 Oleh: TEGUH WINARSHO AS *

Hasan masih ingat bagaimana empat orang bertopeng tiba-tiba keluar dari balik semak belukar menyergap dirinya dan Salman. Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Begitu singkat. Bahkan ia nyaris kehilangan kesadaran setelah sebuah benda keras menghantam kepalanya. Tahu-tahu ia sudah berada dalam mobil yang kemudian melesat cepat. Tangannya diikat. Matanya ditutup kain hitam. Ia tak berkutik. Ia hanya mendengar gelak tawa orang-orang bertopeng itu. Juga asap rokok dan bau alkohol yang menyentak hidung.
"Ayo, makan!" teriak seseorang menyodorkan bungkusan plastik. Lagi-lagi Hasan kaget, menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Perutnya sejak tadi memang sudah berkerucuk, melilit-lilit lapar minta diisi. Tapi entah kenapa mendadak ia malas membuka bungkusan itu. Ada keengganan manakala ia ingat Fatma dan Ibu di rumah.
"Kenapa kau, Hasan? Sakit?" Salman setengah berbisik ketika orang-orang bertopeng itu satu persatu berlalu meninggalkan ruangan.
Hasan menggeleng. "Lon hana teuenle’. Aku sudah tidak tahan. Kapan kita bisa pulang? Ibu pasti sedih. Aku mengkawatirkan keadaan Ibu. Hampir setiap malam Ibu batuk-batuk. Kasihan....." Nyaris tanpa tekanan. Diletakkan lagi bungkusan nasi itu di atas meja.
"Bersabarlah, San. Aku juga sudah muak berada di sini. Nanti aku akan memohon supaya kita dibebaskan. Kalau perlu merengek-rengek. Tak apalah..." Salman menggeleng-gelengkan kepala seperti tak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya. "Aku tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Sungguh nasib buruk. Sial!"
"Kamu kenal mereka?"
"Tidak. Tapi sedikit-sedikit aku tahu cerita tentang mereka. Teuku Malik dan Haji Ahmad pernah menceritakan kelakuan orang-orang bertopeng itu padaku. Konon mereka kejam suka membunuh orang. Bukankah kamu juga pernah mendengarnya, Hasan?"
"Ya, aku pernah dengar dari Ibu. Tapi tidak banyak. Kamu tahu sendiri, hampir separo umurku kuhabiskan di rantau, baru enam bulan ini aku pulang. Dulu, ketika masih kecil, kupikir cerita Keucik Ibrahim yang diseret sepanjang jalan kampung lalu digantung di bawah pohon beringin pojok desa dan Cut Leiha yang diperkosa beramai-ramai di pinggir hutan, hanya isapan jempol belaka. Hanya untuk menakut-nakuti agar aku tidak suka keluar malam. Ternyata tidak. Kini aku benar-benar mengalami sendiri. Tapi bukankah selama ini kampung kita aman-aman saja, Salman? Kenapa jadi begini?"
"Entahlah, San, aku juga bingung…."
"Apakah nanti kita juga akan disiksa? Kaipoh mate? Dibunuh?" Hasan gemetar, suaranya serak. Sesuatu entah apa seperti menyekat tenggorokannya.
Lama Salman tak menjawab pertanyaan Hasan. Sorot matanya mendadak berubah redup. Sayu. "Tidak." Menggeleng pelan. "Aku akan berusaha agar kita bisa dibebaskan."
"Harus Salman. Kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kita juga tidak pernah kenal dengan mereka…."
"Lon pike awak nyan ka salah drop. Kukira mereka salah tangkap."
"Ya, salah tangkap. Kamu harus jelaskan semua ini pada mereka."
"Nanti akan aku jelaskan. Mudah-mudahan mereka percaya."
"Kita ini orang kecil, tak mungkin berbuat macam-macam."
"Yach...." Salman menghela nafas berat." Tapi sudahlah, sebaiknya kita makan dulu. Nanti orang-orang itu keburu datang kemari. Mampus kita."
Hasan mengangguk. Membuka bungkusan plastik yang sedari tadi hanya dipandanginya saja.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu susah," ucap Salman disela-sela makannya.
"Sudahlah, Man, semua sudah terjadi. Yang penting sekarang bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Aku kasihan sama Ibu di rumah. Tentu dia bingung mencariku."
"Hmm… Aku curiga jangan-jangan ini ada hubungannya dengan rapat yang diadakan di rumah Teuku Malik."
"Apa maksudmu?"
"Tadi kita baru saja mau berangkat ke sana. Tapi tiba-tiba di tengah jalan orang-orang bertopeng menyergap kita."
Hasan menghentikan kunyahannya. Jidatnya berkerut. Kedua alisnya membentuk satu garis lurus. "Ya. Mungkin, mungkin," katanya sesaat kemudian. "Orang-orang bertopeng tadi sempat menanyaiku seputar rapat yang diadakan di rumah Teuku Malik. Tapi aku tidak menjawab karena aku memang tidak tahu apa-apa tentang rapat itu. Mereka juga tanya apakah aku kenal dengan Teuku Malik. Tentu saja kujawab tidak. Kamu sendiri apa kenal dekat dengan Teuku Malik?"
Entah apa yang sedang dipikirkan Salman, agaknya ia kurang menangkap pertanyaan Hasan. "Apa?"
"Kamu kenal dekat dengan Teuku Malik?"
"Kenal, tapi belum lama. Baru sekitar dua minggu."
"Pat? Di mana?"
"Di pasar Dayah Boureuh. Teuku Malik punya kios buku di sana. Kebanyakan buku-buku agama. Kebetulan aku sedang mencari buku untuk adikku."
"Teuku Malik bilang apa waktu itu?"
"Dia hanya bilang kalau akan ada rapat di rumahnya. Penting. Aku disuruh datang kesana sekalian mengajak seorang atau dua orang lagi."
"Hanya itu?"
Salman berpikir sebentar. "Tidak. Teuku Malik juga bilang kalau rapat itu penting untuk kelangsungan hidup rakyat kecil seperti kita. Katanya, kalau mau berjuang menegakkan kebenaran, datang saja di rapat itu. Tentu saja aku mau. Makanya aku mengajak kamu."
"Tapi aku heran, kenapa rapatnya di rumah Teuku Malik? "
"Entahlah, San. Tapi dari cerita yang kudengar, Teuku Malik termasuk orang berpengaruh di Dayah Boreuh dan sekitarnya. Teuku Malik sering diundang ceramah di mana-mana. Pengikutnya banyak sekali terutama anak-anak muda. Padahal Teuku Malik masih muda, masih seusia kita. Tapi maklumlah  dulu dia pernah kuliah di Malaysia meski tidak selesai."
"Tentu Teuku Malik tidak sedang menjebak kita, bukan?" tanya Hasan ragu. Tatapan matanya kosong. Segumpal mendung kesedihan menggantung di wajahnya.
"Kalau melihat latar belakang Teuku Malik sepertinya tidak mungkin dia menjebak kita. Tapi hati manusia siapa yang tahu? Apalagi cerita tentang kehebatan Teuku Malik juga hanya kudengar dari orang-orang di pasar Dayah Berouh. Tapi mudah-mudahan cerita itu benar. Masak semua orang bohong."
Hasan mengangguk-angguk lalu kembali meneruskan makannya. Malam kembali sepi. Sunyi. Sesekali terdengar kerik jangkrik di luar. Habis itu sepi lagi. Sunyi lagi. Hasan dan Salman tidak bisa memastikan mereka bisa keluar dari tempat itu. Semuanya masih serba samar-samar, sekadar menduga-duga dan berharap dengan doa. Tapi ketakutan dan kecemasan akan hari esok yang suram terus menyelubungi pikiran keduanya.
Sebenarnya selama ini kampung Pegasing di mana Hasan dan Salman tinggal termasuk kampung yang relatif aman di banding kampung-kampung lain. Tak pernah ada gejolak yang berarti meski berulangkali penduduk yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil bertani di sawah dan ladang merasa dirugikan oleh ulah para pengusaha dan pejabat pemerintah yang seenaknya menebang pohon hutan. Bergelondong-gelondong kayu mereka tebang setiap hari untuk dibawa ke kota. Bahkan sebagian telah mengkapling tanah tersebut sebagai milik pribadi. Hutan yang dulu hijau ranum kini mulai gundul dan sering longsor jika turun hujan deras.
Ya. Kampung Pegasing bukanlah kampung Buntul Kemumu, Bernoun, Lampret, Langsa, atau beberapa kampung lain di sekitar Dayah Boureuh yang selama ini rawan konfik. Bukan. Karenanya bukan cerita aneh jika seseorang dari kampung-kampung tersebut tiba-tiba lenyap selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu. Tahu-tahu sudah menjadi mayat membujur kaku di sungai atau jurang. Bukan pula cerita mengejutkan jika suatu malam, ketika semua orang lelap tertidur tiba-tiba terdengar letusan senjata bertubi-tubi di udara dan suara gemeretak rumah terbakar. (bersambung)

* Teguh Winarsho AS, cerpenis/novelis kelahiran Kulon Progo tahun 1973. Pernah mendapat kehormatan sebagai cerpenis terbaik se-Jawa Tengah versi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Cerpen-cerpennya banyak menghiasi media massa, seperti Republika, Kompas, Horison, Media Indonesia, Koran Tempo, The Jakarta Post, Matra, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Lampung Post, Bisnis Indonesia, Warta Kota, Pikiran Rakyat, Trans Sumatera, Jawa Pos, Surabaya Post, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Wawasan, Solo Pos, Annida, Sabili, Nova, Citra dll. 

Tulisan-tulisannya dalam bentuk antologi bersama adalah Tamansari (Pustaka Pelajar, 1998), Aceh Mendesah dalam Nafasku (Kasuha, 1999), Embun Tajalli (Aksara, 2000), Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi, 2003), Wajah di Balik Jendela (Lazuardi, 2003), Jika Cinta (Senayan Abadi, 2003), Pipit Tak Selamanya Luka (Senayan Abadi, 2003), Jalan Tuhan (Lazuardi 2004), dll. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit, Bidadari Bersayap Belati (Gama Media, 2002), Perempuan Semua Orang (Arruzz, 2004). Salah satu cerpennya masuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 2003. Sementara novelnya Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian Suara Pembaruan, edisi 10 April - 07 Juni 2000. Novel Orang-Orang Bertopeng dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002.

(Cerita ini pernah dimuat bersambung di harian Sinar Harapan dengan judul Orang-Orang Bertopeng)


Selengkapnya...

Mengajarkan Gitar Kepada Anak

 Mungkin teman-teman anda akhir-akhir ini sibuk memperbincangkan mengenai rencana-rencana mereka terhadap buah hati mereka. Tentu saja anda memiliki rencana-rencana sendiri untuk buah hati anda.

Apakah anda tahu bahwa kemampuan bermusik seorang anak itu harus dipupuk sejak dini walau memang tidak semua anak berbakat dalam bidang ini seperti halnya bidang-bidang hobi yang lain.

Tapi tidak ada salahnya untuk anda memperkenalkan musik kepada anak anda sehingga anda bisa melihat bagaimana kemampuan mereka sedini mungkin. Kalaupun memang anak anda tidak menampakkan sedikit pun minat terhadap bidang ini barulah anda punya alasan untuk melanjutkan mencari bakat terpendam lain yang lebih diminati oleh buah hati anda seperti halnya seni melukis, olah raga dan masih banyak lagi.

Namun jika ternyata anak anda menyambut dengan antusias rencana anda untuk mengajarkan dan memperkenalkan mereka dengan musik, jangan tunda-tunda lagi mungkin sekaranglah saat yang tepat baginya untuk memulai. Yang pertama-tama harus anda tentukan adalah memilih alat musik.

Kebanyakan orang tua anaknya ingin agar bisa bermain piano. Sebenarnya, tidak ada salahnya untuk tidak mengikuti trend karena bagi sebagian orang atau remaja, jika bisa bermain gitar justru terlihat lebih ‘cool’ atau keren. Jadi cobalah tawarkan kepada anak anda untuk belajar salah satu alat musik petik ini.

Mungkin beberapa orang tua cukup memiliki pengalaman mengapa anak mereka kadang cepat merasa bosan ketika ditawarkan untuk belajar gitar. Cobalah sekali-kali anda mengintip di kelas mereka, apa yang menyebabkan mereka cepat bosan. Kebanyakan kursus musik selalu dimulai dari dasar, yaitu pengenalan nada-nada dan notasi-notasi.

Hal ini lah yang lebih sering membuat anak-anak merasa bosan, karena namanya juga anak-anak, yang mereka harapkan adalah kapan secepatnya mereka bisa memetik dan bermain gitar dan mereka hampir-hampir tidak perduli dengan apa yang diajarkan oleh guru musik mereka mengenai notasi-notasi dan nada-nada walaupun tentu saja anda tahu mengenal notasi-notasi akan sangat berguna ketika praktiknya nanti.

Namun, walau bagaimanapun cara anda menyampaikannya anak anda tetap tidak mau tahu. Dalam hal ini ada satu trik yang bisa anda lakukan agar anak anda tetap mau bermain gitar sambil mengenal notasi-notasi dan nada-nada. Dalam hal ini, jangan memasukkan anda ke dalam satu kursus musik.

Yang anda harus lakukan adalah tetap mendaftarkan anak anda ke suatu kursus khusus yang mengajarkan mereka tentang notasi-notasi dan nada-nada, tapi anda juga harus mempekerjakan seorang guru privat gitar untuk anak anda dalam waktu bersamaan.

Karena dalam mempelajari gitar, yang pertama-tama harus dilakukan adalah melatih jari-jari agar terbiasa dengan senar, fret dan tab-nya. Jadi sambil mengenal notasi anak anda sudah bisa mulai belajar untuk melatih jari-jari mereka dan ketika tiba saatnya mereka menggabungkan kemampuan mereka mengenal nada dan mempraktekkannya lewat gitar anak anda akan jauh lebih mudah dalam menguasainya.

Cara termudah untuk mempelajari gitar adalah tentu saja dengan mempraktekkannya langsung dan tentu saja itu adalah salah satu hal yang paling dinanti-nantikan oleh anak manapun ketika mereka ingin belajar bermain gitar.

Jadi jika anda tahu bahwa anak anda sangat tertarik untuk mempelajari alat musik petik ini tapi karena mempelajari notasi dan nada gampang membuat mereka bosan dan akhirnya menyerah untuk belajar gitar, mungkin tidak ada salahnya bagi anda untuk mulai mengaplikasikan tips di atas.

Jadi apa lagi yang anda tunggu? Sekarang lah saat yang tepat untuk memperkenalkan musik kepada anak anda, pilihlah tempat kursus musik yang paling terpercaya dan professional jika anda tidak keberatan mengenai biayanya tapi tidak ada salahnya juga untuk mempekerjakan seorang guru privat, karena sekarang ini banyak sekali musisi hebat yang sebenarnya justru lahir di jalanan.(Iman'z Tetap Berjuang)
Selengkapnya...

Rabu, 30 Maret 2011 0 komentar By: sanggar bunga padi

Aku Bukan Sekuntum Bunga (bagian 2)

Oleh: TEGUH WINARSHO AS*
Lorong panjang yang mereka lewati mirip lorong tikus; sempit, pengap, kotor, berkelok-kelok. Tembok tebal yang membatasi sisi kiri dan kanan lorong --- sebagian semennya mengelupas, penuh corat-coret pilox menulis: nama orang, nama hewan, dan gambar-gambar mesum, jorok. Darah segar terpercik di tembok membentuk semacam lukisan abstrak. Tulang, entah tulang apa, seperti tulang manusia dan pecahan botol berserakan di lorong yang jika terinjak kaki akan menimbulkan suara gemeretak mirip tumpukan kayu terbakar. Lorong apakah ini? Lorong kematian? Ihh, Hasan ngeri jika ingat satu kata itu. Hasan belum ingin mati. Hasan masih ingin hidup. 
Entah sudah berapa jauh Hasan dan Salman menggerakkan kedua kakinya yang kian lama kian terasa berat. Sesekali Hasan dan Salman terengah kehabisan nafas. Tapi tiga orang bertopeng di belakang terus memaksa berjalan. Sesekali salah seorang di antara mereka menyodok punggung Hasan dan Salman dengan ujung senapan ketika Hasan dan Salman kedapatan berjalan terlalu pelan. Harus cepat. Harus sigap. Harus kuat. Tapi bisakah berjalan cepat dengan kondisi tubuh kesakitan? Dengan pikiran kalut, takut, dan terancam?
Hasan dan Salman tidak tahu dirinya akan digiring ke mana. Cahaya lampu di lorong panjang itu terlampau remang. Selain itu mereka tak boleh menoleh atau bercakap-cakap. Malam menjadi terasa seram mencekam.
Sambil memegangi kepalanya yang masih perih berdenyut-denyut, Hasan tiba-tiba teringat Fatma, gadis cantik yang tiga bulan lagi rencananya akan ia sunting. Ah, sedang apakah dia? Mungkinkah masih tidur? Atau justru tak bisa tidur karena ingat diriku? Hasan membatin seraya merutuki nasibnya yang hari ini teramat sial. Hasan menyesal kenapa tadi pagi membatalkan kunjungannya ke rumah Fatma, sebaliknya justru ikut ajakan Salman menghadiri rapat di rumah Teuku Malik.
Hasan tidak tahu rapat apa, sebab Salman tidak menjelaskan secara rinci. Salman hanya bilang bahwa rapat itu penting dihadiri  anak-anak muda seperti dirinya yang kelak akan meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah mati di medan perang. Hasan bingung, perang apa yang dimaksud Salman? Pahlawan siapa yang dimaksud Salman? Tapi, kebingungan itu hanya ia pendam dalam hati. Ia tak mau terlihat bodoh di depan Salman.
          "Duduk!" terdengar salah seorang bertopeng bersuara. Berat. Kasar.
Hasan kaget. Lamunannya buyar. Hasan kemudian menggosok-gosok mata untuk memperjelas penglihatannya. Tapi, memang, sejak berada di ruangan pengap ukuran tiga kali tiga tadi ia sudah merasakan pandangannya tak pernah bisa terang. Hasan terus menggosok-gosok matanya berharap pandangannya bisa lebih jelas.
Ya. Kini Hasan bisa melihat lebih jelas: sebuah ruangan cukup luas dan bersih terhampar disekelilingnya. Dua buah meja panjang dan beberapa kursi pendek berada dalam ruangan itu. Sebuah kalender tergantung di dinding, sebagian angkanya disilang dengan spidol merah. Entah apa maksudnya. Beberapa gelas kosong, teremos, jarum suntik, pisau, gunting, koran dan sebungkus rokok tergeletak di atas meja. Hasan tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang bertopeng itu pada dirinya. Dipukul? Ditendang? Diinjak-injak? Dihantam? Ataukah dibunuh?
 Hasan malas menebak. Yang jelas selama ini Hasan tak pernah tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan orang-orang bertopeng itu. Semua pertanyaan terdengar begitu asing di telinganya. Makar? Inskontitusional? Kiri? Marxis? Apa pula semua itu? Karenanya Hasan sering jujur, menjawab tidak tahu setiap apapun yang memang tidak ia ketahui. Tapi ternyata dalam kondisi seperti ini kejujuran saja tidak cukup. Bahkan kadang justru berakibat fatal. Kepalanya sering menjadi  bulan-bulanan orang-orang bertopeng yang mengintrograsinya. Ditempeleng, ditampar atau sekadar disorongkan ke kiri ke kanan persis bola pingpong.
Sekilas Hasan melirik Salman. Lengan Salman masih merembes cairan merah tergores pecahan kaca. Kepala Salman terpekur menatap lantai. Apa yang sedang dipikirkan Salman? Diam-diam Hasan heran, Salman tampak jauh lebih tenang dan santai. Ah, kenapa Salman bisa begitu tenang? Tidak gelisah atau takut? Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba memenuhi kepala Hasan.
Seseorang masuk ke dalam ruangan membawa bungkusan plastik hitam. Langkahnya tegap, tapi penuh kehati-hatian. Meletakkan bungkusan plastik itu di atas meja lalu berbisik-bisik sebentar dengan beberapa orang di situ.  Hasan tidak tahu apa yang dibisikkan orang itu. Berulangkali Hasan berusaha melirik wajah orang itu. Tapi Hasan kecewa, sebab wajah orang itu juga ditutup kain hitam, seperti Ninja. Hanya terlihat bola matanya yang hitam mencorong seperti mau melesat keluar.
Kembali Hasan menunduk, mengikuti apa yang dilakukan Salman menatap lantai kusam di bawah. Tapi mendadak, di situ, lagi-lagi Hasan melihat bayangan Fatma, kekasihnya, tersenyum menari-nari. Hasan tertegun menatap tak berkedip. Dalam hati Hasan merasa berdosa sekali. Hasan tahu besok atau lusa Fatma  sudah harus kembali ke kota untuk bekerja. Kapan lagi aku bisa ketemu dengan Fatma? Kapan? Jika sampai pagi nanti aku masih ditahan orang-orang bertopeng itu, sudah pasti aku tak akan bertemu dengan Fatma. Mungkin harus menunggu satu atau dua bulan. Ah, betapa lamanya. Batin Hasan penuh kecewa. 
Hasan bertekad jika nanti dibebaskan akan segera menyusul Fatma ke kota. Ia akan minta maaf pada Fatma karena tidak bisa datang ke rumahnya. Ia yakin Fatma pasti mau memafkan dirinya. Tapi, ah, kapan aku dibebaskan? Kapan orang-orang bertopeng itu mau membiarkan aku pergi dari sini? Pertanyaan-pertanyaan itu seketika melempar ingatan Hasan pada Salman yang duduk tenang disampingnya. Jika saja ia tak mengikuti ajakan Salman tentu kejadiannya tidak seperti ini.
Memang, tadi berkali-kali Salman sudah minta maaf pada dirinya. Dan ia memaafkan Salman. Tapi itu sebenarnya belum cukup. Yang ia inginkan saat ini adalah keluar dari tempat terkutuk ini. Lalu pulang. Ia sudah tak sabar ingin segera ketemu Ibu di rumah yang pasti gelisah, bingung mencarinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perempuan tua yang sudah sering sakit-sakitan itu harus berjalan jauh mendatangi rumah tetangga atau saudara untuk menanyakan keberadaannya. Pasti mereka juga tidak ada yang tahu. Tempat itu terlalu sepi. Ia yakin tak ada seorangpun yang melihat kejadian ketika empat orang bertopeng menculik dirinya. (bersambung)

* Teguh Winarsho AS, cerpenis/novelis kelahiran Kulon Progo tahun 1973. Pernah mendapat kehormatan sebagai cerpenis terbaik se-Jawa Tengah versi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Cerpen-cerpennya banyak menghiasi media massa, seperti Republika, Kompas, Horison, Media Indonesia, Koran Tempo, The Jakarta Post, Matra, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Lampung Post, Bisnis Indonesia, Warta Kota, Pikiran Rakyat, Trans Sumatera, Jawa Pos, Surabaya Post, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Wawasan, Solo Pos, Annida, Sabili, Nova, Citra dll.
Tulisan-tulisannya dalam bentuk antologi bersama adalah Tamansari (Pustaka Pelajar, 1998), Aceh Mendesah dalam Nafasku (Kasuha, 1999), Embun Tajalli (Aksara, 2000), Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi, 2003), Wajah di Balik Jendela (Lazuardi, 2003), Jika Cinta (Senayan Abadi, 2003), Pipit Tak Selamanya Luka (Senayan Abadi, 2003), Jalan Tuhan (Lazuardi 2004), dll. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit, Bidadari Bersayap Belati (Gama Media, 2002), Perempuan Semua Orang (Arruzz, 2004). Salah satu cerpennya masuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 2003. Sementara novelnya Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian Suara Pembaruan, edisi 10 April - 07 Juni 2000. Novel Orang-Orang Bertopeng dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002.

(Cerita ini pernah dimuat bersambung di harian Sinar Harapan dengan judul Orang-Orang Bertopeng)
Selengkapnya...

Aku Bukan Sekuntum Bunga (bagian 1)


Oleh: TEGUH WINARSHO AS *

SATU
MALAM dingin. Kersik angin, ranting patah, daun gugur, tetes embun, menimbulkan irama lain di malam pekat itu. Mengalun merdu. Sesekali meliuk-liuk, menukik-nukik bagai belati terlempar di udara subuh tertimpa cahaya lampu. Lalu sunyi. Sunyi itu mengalirkan kenangan masa lalu. Satu persatu peristiwa kemudian saling berdesakan di kelopak mata seperti ingin minta dibaca dan dikenang kembali. Tapi masih adakah waktu untuk mengenangnya lagi? Adakah sebuah tempat yang nyaman untuk sekadar berbagi rasa kepada seorang sahabat, saudara, anak atau istri sembari minum kopi di warung atau teras rumah tanpa dicurigai?
Dingin malam merayap pada tembok tebal dan lonjoran-lonjoran besi tua berkarat. Anyir darah, asap rokok, bir, vodka, bangkai tikus, menelusup lewat lubang angin, mengingatkan cerita tentang sebuah pesta kematian ditepi jurang, di antara belukar dan pohon jati oleh orang-orang yang selalu membungkus wajahnya dengan topeng atau kain hitam hingga tak terlihat sedikitpun bentuk maupun ekpresi wajahnya. Yang terdengar hanya gelak tawa dan denting gelas saling beradu ujungnya.
Malam pecah di bibir gelas. Gemetar hingga pucuk pepohonan bergoyang, bergeretak seperti dihantam angin kencang. Lagu perih terus mengalir bersama hembus angin menerbangkan daun-daun kering. Sebuah pesta, segerombolan orang bertopeng, malam pekat, seperti hantu gentayangan menebarkan rasa takut kepada siapa saja.
Malam masih pekat. Masih mengalirkan kesunyian panjang. Lonjoran-lonjoran besi tua itu kian terasa beku, dingin dan angkuh. Tak ada keangkuhan melebihi kesunyian yang tak mau bertegur sapa. Tapi mendadak sunyi pecah ketika terdengar derap langkah sepatu mendekat, suaranya nyaring mirip dentang lonceng dikejauhan. Semakin lama semakin keras menghentak kesadaran dua orang pemuda, Hasan dan Salman, yang hampir dua belas jam meringkuk di ruang pengap ukuran tiga kali tiga, serupa ruang bawah tanah. Segera, dengan susah payah Hasan dan Salman menegakkan kepalanya yang masih terasa nyeri dibagian belakang.
Sesaat keduanya saling bertatapan. Tetapi tak ada seorangpun yang berani bersuara. Ketakutan akan maut yang selalu mengintip di setiap celah tarikan nafas telah membungkam mulut mereka sejak bertahun-tahun lalu. Mungkin sejak Keucik Ibrahim diseret sepanjang jalan kampung berdebu lalu digantung di bawah pohon beringin di pojok kampung dengan luka memar sekujur tubuh dan corat-coret spidol dibajunya.
Atau, sejak Cut Leiha diperkosa ramai-ramai dipinggir hutan jati lantaran tak bisa menunjukkan keberadaan suaminya yang hanya seorang petani dan guru SD biasa. Cut Leiha digiring seperti seekor kambing. Mayat Cut Leiha ditemukan tiga hari setelah kejadian, mengapung di parit pinggir hutan, tidak jauh dari tempat Keucik Ibrahim digantung. Tubuh Cut Leiha membusuk digerogoti ikan dan belatung. Wajahnya nyaris tak bisa dikenali. Bahkan oleh suami dan anak-anaknya sendiri.
Atau barangkali sejak pasangan suami istri muda, Bandi dan Yusnah suatu kali pulang larut malam dari Sidikalang. Dengan tuduhan cuak, mata-mata, Bandi dan Yusnah ditangkap lalu dibawa ke rumah kosong jauh di dalam hutan. Jika pun berteriak, sekeras apa pun, tak akan ada orang yang mendengar teriakan mereka. Di situ, di rumah kosong itu, mereka diinterogasi, dicerca berbagai pertanyaan, sebelum akhirnya disuruh melepas pakaian lalu dipaksa bersetubuh. Sesekali cambuk melayang ke tubuh Bandi dan Yusnah.
Sambil melayangkan cambuk, orang-orang yang menutup wajahnya dengan topeng atau kain hitam itu, tertawa-tawa seolah baru mendapat tontonan menarik; bersulang membagi botol, mengedarkan minuman, menyulut rokok, berceloteh; mabuk! Tapi barangkali nasib Bandi dan Yusnah sedikit lebih baik dari Keucik Ibrahim atau Cut Leiha, sebab setelah itu dibebaskan. Meski sejak peristiwa itu mereka kemudian jarang terlihat keluar rumah kecuali pada malam hari. Orang-orang kampung merasa kehilangan Yusnah sang penari seudati yang lincah. Juga Bandi yang biasa menjadi aneuk cahi, pembaca syair dalam tarian seudati.
Pintu berderak, terbuka pelan. Selarik cahaya lampu 15 watt menerobos masuk bagai blitz kamera. Hasan dan Salman silau menggosok-gosok mata. Terasa perih mata keduanya. Tiga orang laki-laki bertopeng, tinggi, besar, tiba-tiba menendang pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Keras. Membuat Hasan dan Salman tersentak kaget saling merapat. Malam kian mencekam. Hasan dan Salman menggigil ketakutan, mundur merapat tembok. Belum pernah dua pemuda kampung ini mengalami ketakutan sedemikan rupa. Bau alkohol meruak dari mulut ketiga orang bertopeng itu membuat perut Hasan dan Salman teraduk-aduk mau muntah.
Hasan bermaksud menutup hidung dengan sebelah tangannya, sementara satu tangannya lagi ia siagakan di dada berjaga-jaga seandainya ada sebuah tendangan susulan melayang menghampirinya. Tapi Hasan kawatir jika ketiga orang bertopeng itu tersinggung melihat sikapnya lantas justru memukul tengkuknya dengan gagang senapan atau batu seperti yang dialami Salman beberapa jam lalu. Alhasil, Hasan hanya menahan nafas agar tidak terlalu banyak menghirup udara. Tapi tetap saja bau alkohol itu terus menyelinap masuk ke dalam ronggo hidungnya.
"Ayo, keluar! Keluar!" bentak salah seorang bertopeng sambil berjalan dengan langkah-langkah lebar menghampiri Hasan yang menggigil ketakutan. Secepat kilat orang itu mengangkat senapannya diarahkan persis di jidat Hasan. Hasan diam, beku. Kepalanya tertunduk lesu. Entah kenapa tiba-tiba kakinya terasa berat untuk digerakkan. Tubuhnya kaku seperti dibalut lem.
"Ayo, keluar!!" lagi orang itu berteriak keras hingga ludahnya muncrat, sebagian menerpa wajah Hasan. Hasan ingin menghapus bekas ludah itu, tapi lagi-lagi ia kawatir jika orang didepannya justru semakin marah. Hasan sadar dirinya tak bisa berkelahi. Tak pernah diajari berkelahi. Tidak seperti Salman yang sedikit-sedikit pernah belajar ilmu bela diri di rumah Teuku Jabar. Tentu hanya dengan sekali pukul saja, dirinya akan sempoyongan, tersungkur mencium lantai. Tiba-tiba Hasan menyesal kenapa dulu dirinya tak pernah belajar ilmu bela diri. 
Jam berdentang tiga kali. Suaranya menggema panjang seperti berasal dari sebuah puncak bukit. Sesekali angin berkesiur menghempas daun-daun jati dan mahoni, melayang-layang sebentar di pekat udara malam sebelum terserak di atas tanah kerontang. Batang-batang rumput saling bergoyang dan bergesek mengibaskan manik-manik embun yang berkilauan serupa logam perak di bawah sinar cahaya bulan. Hasan menyaksikan semua itu lewat pintu di depannya yang menguak lebar. Tapi, serta-merta pandangannya berubah gelap ketika dua orang bertopeng berdiri persis di depan pintu. Sorot mata dua orang bertopeng itu berkilat tajam seperti ingin melumat tubuhnya. 
"Hai! Kalian tuli!"
"Kalian tak punya telinga!? Hah!"
"Dasar babi busuk! Keluaaarr!!"
Suara itu sahut menyahut. Susul menyusul. Satu tendangan kuat tiba-tiba kembali melayang tepat mengenai pantat Hasan. Hasan sempoyongan, meringis menahan sakit. Seorang yang lain mendorong tubuh Salman, lalu Hasan, lalu Salman, Hasan, Salman, begitu seterusnya hingga sampai depan pintu. Hasan dan Salman kemudian digiring keluar. Berulangkali Hasan memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut, terasa basah. Hasan berharap sesuatu yang basah itu hanya keringat dingin, bukan darah. Tapi kepalanya terus berdenyut dan seperti ada sesuatu yang mulai menetes dari alis turun merembes di pipi. Semakin lama semakin banyak disertai rasa perih. Lalu, perlahan, Hasan merasakan bintang-bintang di langit  jatuh berserakan memenuhi batok kepalanya. Berputar-putar.
Sementara detak sepatu tiga orang bertopeng di belakang terdengar semakin nyaring di malam gelap sunyi, seperti mengiringkan proses kematian. Seperti memanggil malaikat maut agar segera datang. Untuk kesekian kalinya Hasan bergidik, merinding. Takut.(bersambung)



* Teguh Winarsho AS, cerpenis/novelis kelahiran Kulon Progo tahun 1973. Pernah mendapat kehormatan sebagai cerpenis terbaik se-Jawa Tengah versi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Cerpen-cerpennya banyak menghiasi media massa, seperti Republika, Kompas, Horison, Media Indonesia, Koran Tempo, The Jakarta Post, Matra, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Lampung Post, Bisnis Indonesia, Warta Kota, Pikiran Rakyat, Trans Sumatera, Jawa Pos, Surabaya Post, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Wawasan, Solo Pos, Annida, Sabili, Nova, Citra dll. 


Tulisan-tulisannya dalam bentuk antologi bersama adalah Tamansari (Pustaka Pelajar, 1998), Aceh Mendesah dalam Nafasku (Kasuha, 1999), Embun Tajalli (Aksara, 2000), Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi, 2003), Wajah di Balik Jendela (Lazuardi, 2003), Jika Cinta (Senayan Abadi, 2003), Pipit Tak Selamanya Luka (Senayan Abadi, 2003), Jalan Tuhan (Lazuardi 2004), dll. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit, Bidadari Bersayap Belati (Gama Media, 2002), Perempuan Semua Orang (Arruzz, 2004). Salah satu cerpennya masuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 2003. Sementara novelnya Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian Suara Pembaruan, edisi 10 April - 07 Juni 2000. Novel Orang-Orang Bertopeng dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002.


(Cerita ini pernah dimuat bersambung di harian Sinar Harapan dengan judul Orang-Orang Bertopeng)
 
Selengkapnya...

Membuat Film Sendiri, Kenapa Tidak?

Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film. Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?

1. Ide

Idealnya, ide ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar (atau di kuburan) juga bisa mendatangkan ide, kok…

2. Sasaran

Setelah mendapatkan ide, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala film 300 nya Zack Snyder.

3. Tujuan

Ide dan sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin mengajarkan betapa pentingnya keluarga? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom atau pesan anti-perang dalam Platoon? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Atau mengajarkan tentang harga dari sebuah kesombongan dalam Titanic?Apa & Kenapa?

4. Pokok Materi

Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?

5. Sinopsis

Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.

6. Treatment

Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…

Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…

7. Naskah

Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…

FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.
Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…
Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?

Tapi sebuah naskah juga harus disertai yang namanya dialog. Jangan njelaskan kesana-kemari tapi percakapannya nol (kecuali film bisu, tapi karena kita tidak sedang bicarain film bisu, kita tidak usah membicarakannya disini). Banyak sekali tipe dialog, tapi yang pasti, dialog yang baik adalah dialog yang yang bisa menjelaskan/menggambarkan suasana hati, keadaan, dan situasi yang dialami para karakternya, yang sedang terjadi dalam suatu scene adegan. Ada dialog yang sangat sederhana, sampai dialog yang sangat dalam hingga kita seakan-akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para pemain film yang bersangkutan, bahkan tak sedikit terdapat dialog yang konyol dan terkesan membodohi audiensnya. Banyak sekali macamnya. Tergantung kita ingin memakai yang seperti apa.

Contoh dialog bawah ini adalah potongan dialog dalam film Batman Begins, dimana kebanyakan dialog yang bertebaran sepanjang keseluruhan durasi film ini memiliki kekuatan di atas rata-rata & menurut saya ini adalah salah satu film dengan bahasa berat namun mudah dicerna, memiliki banyak makna dalam setiap scene adegannya, plot twist, serta jumping scene yang maju mundur, namun kita, para audiensnya, saya yakin bisa menerimanya atau bahkan ikut larut terbawa arus penceritaan didalamnya. Adapun potongan dialog tersebut adalah sbagai brikut:

(Sebuah scene di sebuah lift di dasar terowongan BatCave, ketika api menjilat-jilat panas nun jauh di atas sana)

Alfred : kenapa kita jatuh, Tuan Wayne?
Bruce Wayne : (diam keheranan sambil menatap Alfred)
Alfred : (Sambil tersenyum, ia menjawab) Supaya kita bisa belajar bangkit kembali.
Bruce Wayne : Belum hilangkah keyakinanmu padaku?
Alfred : (menjawab dengan suara lantang dan penuh rasa optimis, dengan tetap tersenyum) Tidak pernah.

8. Pengkajian

Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…

9. Produksi Prototipe

Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).

10. Uji coba

Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.

11. Revisi

Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.

12. Preview

Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.

13. Pembuatan Bahan Penyerta

Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.

14. Penggandaan

Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (-inget Film Janji Joni-, tapi ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).

Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. Semoga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Salam.(Iman'z Tetap Berjuang)
Selengkapnya...

Yang Harus Diketahui Saat Anak Mulai Merangkak


 Ada beberapa bayi yang mulai merangkak antara usia 6-9 bulan, beberapa bayi bahkan tak pernah belajar meragkak. Ada yang dari posisi duduk langsung belajar berjalan tanpa memasuki tahapan merangkak ini. Mengapa bisa begitu? Apa saja yang mesti diketahui orangtua mengenai anak yang sedang belajar merangkak? Dr Robin Goldstein menerangkan mengenai anak merangkak dalam bukunya, Buku Pintar Orang Tua.

Goldstein menerangkan, bahwa setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda. Setiap anak akan mulai merangkak begitu ia sudah siap. Tetapi jika seorang anak belum juga dapat merangkak ketika usianya mencapai 9 bulan, maka sebaiknya dibicarakan dengan dokter anak untuk mengetahui kesehatan perkembangan motoriknya.

Ada sebagian orang yang mencoba memancing anak untuk mulai merangkak dengan meletakkan mainan menarik yang jauh dari jangkauannya. Menurut Goldstein, sebenarnya anak tak perlu dipaksa untuk belajar merangkak. Karena pada dasarnya, anak-anak akan mulai menggerakkan tubuh untuk merangkak ketika ia merasa sudah siap.

Ketika anak mulai bergerak, ia akan menggunakan perutnya. Ia akan mencoba belajar bergerak maju-mundur, menggunakan kedua tangannya untuk bergerak, sementara perutnya tetap menempel pada lantai. Kemudian, anak akan mencoba bangun dengan kaki dan tangannya, agak sedikit bergoyang. Ia akan bergerak perlahan dengan kaki dan tangannya, belajar menguasai gerakan itu hingga ia mulai merangkak.

Pada tahap ini, si anak sudah mampu menggapai benda-benda di sekelilingnya. Pada masa ini, Anda harus waspada dengan benda-benda di sekitarnya. Mengamankan barang-barang yang bisa menimpanya, menjauhkan barang yang bisa pecah dari jangkauannya, tanpa harus menghalangi keingintahuan anak yang bersifat alami terhadap benda-benda yang dilihatnya.

Asalkan benda-benda yang berpotensi berbahaya itu jauh dari jangkauannya, biarkan anak menyentuh tirai, kaki meja, atau mengambil mainan. Ini merupakan cara anak untuk mengenal dunianya. Pastikan saat anak belajar merangkak ini, lantai rumah selalu dalam keadaan bersih, tidak ada benda-benda kecil asing atau berbahaya yang bisa ditelannya.

Jika rumah Anda memiliki tangga, entah itu akses ke lantai atas atau menuju ke bawah, sebaiknya pasang pagar pengaman untuk memastikan si anak tidak mencoba menaiki tangga tersebut. Pastikan daerah tangga sudah cukup aman untuk anak agar Anda pun bisa merasa tenang membiarkannya menapaki tahapan dalam perkembangannya tersebut.(Nadia Felicia)

Sumber: Kompas.com
Selengkapnya...

Selasa, 29 Maret 2011 0 komentar By: sanggar bunga padi

Protein Sel Otak Penyebab Autisme Berhasil Dikenali


Mutasi pada protein yang merusak komunikasi antarsel otak diduga menjadi penyebab timbulnya autisme. Ada ratusan gen yang berkaitan erat dengan kondisi yang menyebabkan autisme, sebuah kondisi perilaku yang tidak teratur yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Namun kombinasi genetik, faktor biokimia serta faktor lingkungan lainnya yang menjadi pemicu autisme, masih belum jelas hingga saat ini. Pasalnya, setiap penderita hanya memiliki satu atau beberapa jenis mutasi genetik saja sehingga sulit menemukan obat untuk mengobatinya.

Baru-baru ini sekelompok ilmuwan dari Duke University, North Carolina, Amerika, berhasil membuat terobosan baru. Mereka menemukan protein yang memicu autisme dengan cara memutus komunikasi di antara sel-sel otak.

Para peneliti memperoleh temuan itu setelah melakukan eksperimen pada tikus yang gen pengontrol produksi proteinnya sudah dimutasi. Protein yang berada di sinapsis (jalinan antarsel otak yang memungkinkannya untuk saling berkomunikasi) itu dinamakan Shank3.

Pengamatan selama eksperimen memperlihatkan tikus dengan Shank3 yang sudah dimutasi ternyata menunjukkan masalah sosial dan perilaku berulang. Tikus yang sudah mengalami mutasi itu cenderung menghindari interaksi dengan tikus-tikus lainnya. Ia juga melakukan suatu tindakan yang berulang-ulang serta cenderung menyakiti dirinya sendiri.

Ketika tim MIT menganalisis otak tikus itu, mereka menemukan kerusakan pada sirkuit yang menghubungkan korteks (lapisan luar otak) dengan striatum. Padahal, hubungan yang sehat pada kedua bagian tersebut merupakan kunci pengaturan perilaku dan interaksi sosial.

Dr. Gouping Feng yang menjadi pemimpin tim peneliti mengatakan, studi mereka menunjukkan mutasi Shank3 pada tikus menyebabkan kerusakan pada neuron-neuron komunikasi. "Temuan ini dapat membantu kita dalam mengembangkan pengobatan autisme di masa depan," ungkapnya kepada BBC.

Namun Carol Povey, Direktur National Autistic Society's Centre for Autism, menganggap terlalu dini untuk mengandalkan pengobatan autisme pada hasil studi itu. Sebab, "Otak manusia jauh lebih kompleks dari otak mamalia lainnya. Selain itu, banyak faktor lain yang bisa memicu autisme," jelasnya.

Sumber: http://nationalgeographic.co.id
Selengkapnya...

Desa Sejahtera adalah Karya Nyata Berdayakan Bangsa

(presidensby.info) Membangun sebuah desa yang sejahtera merupakan impian dan cita-cita kita bersama. Menurut Ibu Ani Bambang Yudhoyono, desa bisa dikatakan sejahtera apabila penduduknya sudah cukup pangan, sandang, papan, kesehatan terjamin, akses pendidikan mudah dan terjangkau, lingkungan sehat dan aman, cukup air bersih, serta ramah terhadap anak-anak. Hal tersebut disampaikan Ibu Ani saat meresmikan Desa Sejahtera binaan SIKIB kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada di Waduk Sermo, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Bentuk kerja sama yang dilakukan Desa Hargotirto antara UGM, pemda, dan SIKIB merupakan langkah yang sangat positif. Disini diharapkan para mahasiswa UGM dapat mengaplikasikan teori yang didapat di bangku kuliah kedalam kehidupan nyata. Dulu sering kita dengar istilah mahasiswa melakukan KKN atau Kuliah Kerja Nyata, turun ke desa-desa untuk bekerja membantu membantu masyarakat desa dalam mengatasi permasalahan yang ada, serta mempraktekkan ilmu yang sudah didapat," ujar Ibu Ani.

Bagi seorang mahasiswa, terutama yang akan menyelesaikan kuliahnya, kadang-kadang dalam dirinya timbul pertanyaan tentang apa dan bagaimana jika mereka sudah terjun ke masyarakat. "Pertanyaan seperti itu tidak mudah dijawab hanya dengan kata-kata, kecuali dengan praktek nyata. Terus terang, praktek seringkali tidak seindah dan semudah teorinya. Justru dengan praktek kerja nyata inilah, mahasiswa diharapkan mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan yang ada, serta dapat memperkecil gap antara teori dan praktek," lanjutnya.

"Mahasiswa merupakan salah satu agent of change, yang mampu memotifasi dan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Kita ingat, hampir semua perubahan besar di negeri ini selalu dimotori mahasiswa. Dengan demikian, melibatkan mahasiswa secara aktif dalam program pembangunan adalah sangat baik," terang Ibu Ani.

Ibu Ani berharap para mahasiswa UGM yang melakukan KKN di seluruh Indonesia, dapat betul-betul memberdayakan masyarakat setempat dengan tetap memperhatikan potensi dan budaya lokal. Program semacam ini juga akan mendidik para mahasiswa menjadi calon pemimpin masa depan yang akan memiliki kepedulian dan empati terhadap lingkungan.

Penamaan Desa Sejahtera itu sendiri, menurut Ibu Ani sesungguhnya mengandung doa, kiranya kerja sama antara UGM, pemda Kulon Progo, dan SIKIB benar-benar mewujudkan masyarakat Hargotirto yang sejahtera lahir dan batin. "Mereka telah bersama-sama merampungkan pusat kegiatan masyarakat, diantaranya pembangunan Rumah Pintar lengkap dengan isinya, pengadaan Motor Pintar, Taman Herbalia dan Taman Lalu Lintas," Ibu Ani menjelaskan.

"Kita bisa melakukan perbaikan, bisa membantu saudara-saudara kita yang masih tertinggal dimanapun dengan cara apapun. Di tempat ini merupakan bukti nyata, komitmen itu menjadi karya nyata. Semoga ini bukan yang terakhir melainkan bagian dari tugas kita yang melekat sepanjang hidup kita," kata Ibu Ani. Dengan tulus Ibu Ani menyampaikan terimakasih atas kerja sama yang baik dalam membangun Desa Sejahtera.

Didampingi rombongan terbatas, Ibu Ani dan Ibu Herawati Budiono kemudian meninjau lokasi Desa Sejahtera yang terletak kurang lebih 6 km dari tempat acara. Nampak mendampingi antara lain, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Ratna Djoko Suyanto, Okke Hatta Rajasa, Ani Numberi, Murniati Widodo A.S., dan Erna Witoelar. (osa/Mediacenter Kulonprogo) 
Selengkapnya...

Senin, 28 Maret 2011 0 komentar By: sanggar bunga padi

Menulis dengan Tangan Baik untuk Otak

Fungsi pena kini banyak digantikan dengan papan ketik (keyboard). Padahal, terbiasa mengetik dengan keyboard berpengaruh pada menurunnya aktivitas otak yang berperan besar dalam fungsi pembelajaran.

Menulis dengan tangan diketahui menimbulkan pengalaman sensorik yang sangat berbeda dengan kegiatan mengetik. Kedua kegiatan itu ternyata mengaktifkan dua bagian otak yang berbeda juga.

"Tubuh kita didesain untuk berinteraksi dengan dunia di sekeliling kita. Kita memiliki 'alat' untuk menggunakan obyek fisik untuk mengerjakan tugas, misalnya buku atau pena," kata salah satu peneliti Anne Mangen dari University of Stavangers Reading Centre, Norwegia.

Dalam serangkaian tes yang dilakukan Mangen dan timnya, diketahui aktivitas menulis dengan tangan akan meninggalkan jejak "memori motor" di bagian otak yang disebut sensorimotor. Proses ini akan mendorong kemampuan visual dalam mengenal huruf dan angka. "Meski terkesan dua hal yang berbeda, sebenarnya menulis dan membaca saling berkaitan," kata Mangen.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Advances in Haptics. Haptics sendiri mengacu pada sensasi menyentuh dan cara berkomunikasi dan mengeksplorasi lewat sentuhan.

Dalam penelitiannya, kelompok partisipan dibagi dalam dua kelompok, yakni orang yang menulis dengan tangan dan orang yang mengetik lewat keyboard. Kemudian mereka diminta mempelajari alfabet yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Ternyata orang dari kelompok yang menulis dengan tangan memiliki hasil yang lebih baik dalam tes dibanding orang yang mengetik di keyboard.

Hasil pemindaian otak juga menunjukkan orang yang menulis dengan tangan, bagian otak yang disebut broca lebih aktif. Bagian otak ini berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Kerusakan di bagian otak ini, misalnya akibat kecelakaan, bisa menyebabkan seseorang sulit berbicara. (Lusia Kus Anna)

Sumber: Kompas.com
Selengkapnya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...