Kamis, 12 Mei 2011 By: sanggar bunga padi

Kantring Genjer-Genjer [dari kitab kuning sampai komunis] bagian 10

Oleh: TEGUH WINARSHO AS *

Sejurus kemudian enam cantrik menggotong tubuh Sadikin yang baunya busuk, ususnya terburai bergelantungan sebagian membelit tubuhnya yang hanya tinggal tulang. Setiap lima puluh meter para cantrik bergantian menggotong, tak kuat menahan bau. Sadikin sendiri mulutnya megap-megap. Matanya lurus menatap langit siang yang garang. Hatinya bergetar menjerit: “Duh, Gusti Allah…ampuni semua dosa-dosaku. Beri aku kesempatan hidup lebih lama untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku atau mati hanya dengan izin-Mu. Duh, Gusti Allah, aku percaya hanya Engkaulah penguasa langit dan bumi, Tuhan yang satu yang wajib disembah oleh seluruh umat manusia. Duh, Gusti Allah, aku percaya tiada kekuatan selain kekuatan-Mu, tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu. Duh, Gusti Allah, bukalah seluas-luasnya pintu ampunan-Mu untukku. Mudahkanlah jalan kematianku jika Engkau memang menghendakinya…”

Sadikin akhirnya sampai di hadapan Kyai Barnawi. Diletakkan di atas dipan sementara Kyai Barnawi terus wirid. Jika bukan Kyai hebat pasti sudah muntah dua jam duduk mengahadap bangkai. Tiba-tiba Sadikin membuka mata dan menggerak-gerakkan tangannya. Kyai Barnawi tersenyum senang melihat laki-laki pincang itu akhirnya siuman. “Ucapkanlah dua kalimat syahadat, Sadikin,” ucap Kyai Barnawi pelan. Sesaat Sadikin menatap Kyai Barnawi lalu menggeleng-gelengkan kepala. Kyai Barnawi terkejut, hampir suudzon berpikir: sudah hampir mampus masih tidak mau mengucap syahadat. Hingga seorang cantrik menepuk pundak Kyai Barnawi. “Maap, Kyai, Sadikin mboten saget maos syahadat…

Kyai Barnawi akhirnya mengangguk-angguk mahfum. Tapi ia masih kurang begitu yakin. “Benarkah sampean tidak bisa melafalkan dua kalimat syahadat, Sadikin?” tanya Kyai Barnawi penasaran.
Lagi-lagi Sadikin menatap Kyai Barnawi dan menggeleng-gelengkan kepala pelan. Matanya berkedip-kedip mirip tikus.
“Baiklah… kalau begitu sampean ikuti suaraku…” Kyai Barnawi menghirup napas dalam-dalam mulai membaca syahadat.

Sadikin mencoba mengumpulkan tenaganya. Lalu mengikuti suara Kyai Barnawi. “Ass…hadu…aallaa… ilaha illallah… wa asshaduanaa … muham… madaraa…sulullah…” Suara Sadikin terbata-bata mengikuti napasnya yang mengerjat satu-satu. Sesaat kemudian kedua tangannya jatuh di dipan dan matanya mengatup rapat.
Para cantrik Sadikin terkejut melihat kematian Sadikin yang begitu cepat di depan Kyai Barnawi. Mereka berpikir Kyai Barnawi membunuh Sadikin. Dalam diam dada mereka terbakar amarah.

Innalillah…” ucap Kyai Barnawi mengusap kepala Sadikin lalu beralih menatap para cantrik Sadikin yang berjejer di belakangnya seperti deretan patung batu. “Pulanglah kalian, biar aku dan santri-santriku yang mengurus pemakaman Sadikin…”
Sesaat para cantrik Sadikin berpandangan menahan kemarahan terpendam. Hingga seseorang angkat suara, sinis menatap Kyai Barnawi. “Maaf, dia guru kami. Kami yang berhak menguburnya!”

Kyai Barnawi tersinggung menatap tajam cantrik yang baru saja bicara. Ia merasa tidak suka. “Apa maksudmu?” tanya Kyai Barnawi.
“Kami akan mengubur Sadikin dengan cara kami!”
“Sadikin mati di tempatku. Akulah yang berhak menguburnya!”
“Tidak bisa. Sadikin guru kami. Kamilah yang berhak!”

Kyai Barnawi berdiri. Wajahnya merah, urat di sekitar matanya bergetar. Baru pertama kalinya ia berhadapan dengan anak-anak muda yang berani bicara lancang. Darah Kyai Barnawi berdesir. “Terus untuk apa kalian bawa Sadikin kemari?”
“Itu permintaan Sadikin. Bukan kami.”

Kali ini Kyai Barnawi tersenyum, tapi sinis. “Baiklah kalau begitu…” ucap Kyai Barnawi mengangguk-angguk di kepalanya tersusun sebuah rencana. “Asal kalian tahu tadi sebelum mati Sadikin juga berbisik padaku agar aku yang mengurus pemakamannya. Ini pesannya yang terakhir. Jadi lebih baik sekarang kalian pulang semua!”

Cantrik yang tadi banyak bicara tiba-tiba bungkam. Mereka kembali saling berpandangan dalam diam. Kyai Barnawi tersenyum senang merasa siasatnya berhasil. Tapi dua orang cantrik tiba-tiba melangkah ke depan. Salah seorang dari mereka menuding-nuding wajah Kyai Barnawi. “Najis! Sampean bohong! Kami tidak percaya Sadikin minta dikubur di sini!” Berkata begitu ia kemudian menyuruh teman-temannya menggotang mayat Sadikin. Lima orang sigap maju menghampiri mayat Sadikin.

Tubuh Kyai Barnawi sesaat bergetar, tapi kemudian tertawa keras. “Ambilah! Ambilah mayat Sadikin jika kalian bisa keluar dari tempat ini! Hahaha…” ucap Kyai Barnawi sambil terus tertawa.

Para cantrik merasa heran mendengar ucapan dan tawa Kyai Barnawi yang keras. Serentak mereka menoleh. Tampak di belakang mereka puluhan santri Kyai Barnawi berpakaian putih-putih menatap tajam membawa pedang. Para cantrik Sadikin gemetar mengkeret. Delapan sampai dua belas orang mungkin bisa dengan mudah mereka lumpuhkan. Tapi kalau tiga puluh orang lebih? Semuanya membawa pedang? “Aku wedhi, wedhi…aku ora mau mati disembelih. Aku durung kawin..” bisik seorang cantrik Sadikin pada teman di sebelahnya, lututnya gemetar.

Tobil! Sampean bisa diam nggak!”
“Mulutku bisa diam. Tapi awakku terus ndredeg. Aku mau menyerah saja dari pada disembelih. Aku durung kawin. Aku pengen kawin. Jangan-jangan nanti aku ora bisa ngaceng…

Kyai Barnawi kembali tertawa sambil melilitkan surban. “Ayo, kenapa kalian hanya diam saja? Ambilah mayat Sadikin dan bawa pulang. Tadi kalian ngotot ingin membawa Sadikin. Kalian ingin mengubur Sadikin dengan cara kalian sendiri. Ayo, cepat ambil! Biar sekalian kusiapkan lubang kubur sejumlah kalian. Santri-santriku pasti tidak keberatan. Hei, kenapa kalian hanya diam saja? Kalian takut?! Mana ilmu kalian yang katanya sakti itu? Hahaha….”

Seorang cantrik tiba-tiba menyikut lengan temannya dan berbisik. “Mungkin Kyai Barnawi hanya menggertak. Sebaiknya kita jangan terlihat lemah di depannya. Busungkan dadamu!”

“Maksudmu?”
“Para santri itu hanya siluman. Aku bisa mengatasinya!”
“Siluman piye? Lha wong jelas-jelas sikil mereka nginjak tanah…”
“Jangan banyak bacot. Ilmumu masih rendah!”
Wislah kita bali wae. Kita ndak mungkin bisa menang. Untuk apa ngurusi mayat Sadikin sing baune kaya bangkai. Aku durung arep mati sakdurunge ngrasakke wedhokan. Sampean sendiri bola-bali ngomong kelon karo wedhokan kuwi uenak tenan. Saben bengi dolanan manuk-manukkan. Tapi kalau nanti manukku ora bisa manggung piye?”

“Hrghh! Diam!”
“Aku arep nguyuh…
Kyai Barnawi rupanya mendengar bisik-bisik itu. Ia kemudian berjalan menghampiri para santrinya. “Damhar dan kamu Asroi, coba kalian ayun-ayunkan pedang kalian, apakah kalian ini siluman?”


*) TEGUH WINARSHO AS, lahir di Kulonprogo, Yogyakarta, 27 Desember. Buku-bukunya yang sudah terbit, kumpulan cerpen Bidadari Bersayap Belati (Gamamedia, 2002), Perempuan Semua Orang (Arrus, 2004), Kabar dari Langit (Assyamil, 2004), Tato Naga (Grasindo, 2005), dan novel: Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi mekah (Bening Publishing, 2005), Jadikan Aku Pacar Gelapmu (Arrus, 2006). Novelnya: Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian sore Suara Pembaruan (2000), Orang-Orang Bertopeng dimuat di Sinar Harapan (2002), Purnama di Atas Jakarta dimuat Republika (2005). Kini mengibarkan bendera dengan nama penerbitan Lafal Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...