Jumat, 27 Mei 2011 By: sanggar bunga padi

Kantring Genjer-Genjer [dari kitab kuning sampai komunis] bagian terakhir

Oleh: TEGUH WINARSHO AS *

Baiklah, Ibu, kukira aku memang harus segera pergi. Subuh ini. Sebelum orang-orang bangun, batuk-batuk, meludah dan terang matahari menyentuh tanah. Sebelum orang-orang kalap, meradang menghunus pedang dan kelewang. Ya, aku harus segera pergi. Tapi, oh, siapa yang berdiri di depan pintu itu, Ibu? Benarkah dia Ayahku? Ki Sangir? Wajahnya terlihat kurus, cekung, pucat. Matanya sayu. Dadanya ringkih. Bajunya lusuh, compang-camping. Aku hampir tak mengenalinya. Dan siapa orang-orang yang ada di belakangnya? Oh…. salah seorang dari mereka datang menghampiriku. Laki-laki berbadan tegap kekar. Berseragam. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi entah di mana aku lupa. Banyak orang yang akhir-akhir ini kulupakan. “Kabarnya hanya kamu yang bisa membunuh laki-laki tua itu. Bunuhlah!” kata laki-laki berseragam dingin mengangsurkan pistol dan golok.

Aku kaget. Sesaat tubuhku bergetar. Jadi mereka membawa Ayah ke sini agar aku membunuhnya? Mereka pasti tak bisa membunuh Ayah. Ayah memang sakti tapi aku tahu kelemahannya. Hanya aku yang tahu. Tapi mereka pasti mau menipuku. Setelah aku berhasil membunuh Ayah mereka juga akan membunuhku. Jadi untuk apa aku turuti perintah mereka?

“Kenapa?” tanya laki-laki berseragam masih dingin. Menarik napas kuat-kuat lalu melangkah sejengkal hingga aku bisa mencium alkohol dari mulutnya. Giginya berwarna kuning. “Bunuh dia atau kami akan membunuhmu. Kami punya alasan kuat membunuhmu. Kamu terlibat penculikan dan pembunuhan Dewan Jendral. Semua teman-temanmu sudah mati. Tapi kami akan membebaskanmu jika bisa membunuh laki-laki tua itu.”

Aku mengatur napas. Rasa kagetku masih belum hilang. Tubuhku juga masih gemetar. “Apa jaminannya?” tanyaku dengan suara bergetar sebab tenggorokanku terasa serak. Sekilas kulihat Ayah menatapku. Wajahnya semakin pucat. Dahinya berkeringat. Baru kali ini aku melihat Ayah ketakutan. “Bukankah nanti kalian juga akan membunuhku?”

Laki-laki berseragam tiba-tiba mengeluarkan lipatan kertas dari saku bajunya. Membuka lipatan kertas lalu ditunjukkan padaku. “Ini surat pernyataan bahwa kamu tidak terlibat penculikan dan pembunuhan Dewan Jendral. Dengan surat ini kamu dinyatakan bebas. Mereka saksinya,” Laki-laki berseragam menoleh ke arah beberapa orang yang berdiri di depan pintu. “Di sana ada Pak Camat, Pak Lurah, Pak Kyai dan Pendeta. Mereka akan ikut tanda tangan menjadi saksi. Benar kan bapak-bapak?” tanya laki-laki berseragam berubah ramah.

Orang-orang itu mengangguk-angguk.
“Cepat! Kami tak punya waktu banyak!” Laki-laki berseragam yang lain tiba-tiba menghampiriku sambil menodongkan pistol ke arah kepalaku. Wajahnya sangar. Matanya melotot.

Tubuhku seperti hilang rasa. Kedua kakiku seolah tak menjejak tanah. Kulihat wajah Ayah semakin pucat. Tubuhnya terus bergetar. Wajahnya basah keringat. Ayah terpekur menatap lantai entah apa yang sedang dipikirkannya. Tapi aku harus segera menentukan pilihan, membunuh Ayah atau aku sendiri yang akan dibunuh orang-orang itu. Ya, aku harus segera menentukan pilihan sebelum laki-laki berseragam itu kalap dan menembak kepalaku. Aku memang tidak begitu percaya dengan omongan orang-orang berseragam itu, tapi aku percaya pada orang-orang yang berdiri di depan pintu yang akan menjadi saksiku. Ini memang pilihan sulit, tapi aku harus memilih. Aku menarik napas dalam-dalam mengumpulkan kekuatan. “Baiklah, aku terima tawaran kalian,” kataku.

Laki-laki berseragam kemudian menyodorkan kertas berisi surat pernyataan. Aku tanda tangan disusul empat orang saksi. Sesaat suasana hening. Ini pertemuan pertamaku dengan Ayah setelah sekian tahun berpisah. Kini aku harus membunuhnya. Artinya kami akan berpisah lagi. Kali ini untuk selama-lamanya. Tapi, ah, tiba-tiba aku ingat surat peninggalan Ibu. Siapa Ayah kandungku yang sebenarnya? Ki Sangir atau Kyai Barnawi? Ki Sangir telah membunuh Kyai Barnawi dan kini aku akan membunuh Ki Sangir. Apakah aku memang harus membalaskan dendam Kyai Barnawi karena sesungguhnya dia Ayah kandungku? Ataukah memang aku harus membunuh Ayah kandungku sendiri Ki Sangir agar aku selamat?

“Cepaatt!!” Laki-laki berseragam yang tadi menodongkan pistol membentak.
Aku tergeragap. Tubuhku kembali hilang rasa. Aku segera meraih bilah bambu tak jauh dari tempatku berdiri lalu dengan mata setengah terpejam kutusukkan persis ke ulu hati Ayah. Bilah bambu itu tembus keluar menyodok jantung Ayah. Darah segar muncrat di pagi buta. Sesaat Ayah mengerang dan menggelepar-gelepar. Matanya melotot. Mulutnya peyot. Lalu diam tak bergerak.

Aku menghempaskan napas yang sejak tadi kutahan. Tubuhku terasa lebih ringan. Mungkin aku senang karena aku akan bebas. Aku tak perlu sembunyi lagi. Meski untuk itu aku harus membunuh Ayahku sendiri. Tapi tiba-tiba seseorang memukul tengkukku dari belakang, keras. Sesaat aku limbung terhuyung. Lalu ambruk. Pandangan mataku perlahan-lahan kabur. Mungkin aku pingsan. Atau setengah pingsan. Tapi sayup-sayup aku masih bisa mendengar percakapan itu.
“Masukkan mobil dan bawa ke kantor!”
“Siap, Komandan!”
“Kita eksekusi besok pagi bersama teman-temannya yang lain!”
“Siap, Komandan!”
“Siapa namanya?”
“Nyoto, Komandan!”

Depok, 23 April 2006
-SELESAI-

*) TEGUH WINARSHO AS
, lahir di Kulonprogo, Yogyakarta, 27 Desember. Buku-bukunya yang sudah terbit, kumpulan cerpen Bidadari Bersayap Belati (Gamamedia, 2002), Perempuan Semua Orang (Arrus, 2004), Kabar dari Langit (Assyamil, 2004), Tato Naga (Grasindo, 2005), dan novel: Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi mekah (Bening Publishing, 2005), Jadikan Aku Pacar Gelapmu (Arrus, 2006). Novelnya: Di Bawah Hujan dimuat bersambung di harian sore Suara Pembaruan (2000), Orang-Orang Bertopeng dimuat di Sinar Harapan (2002), Purnama di Atas Jakarta dimuat Republika (2005). Kini mengibarkan bendera dengan nama penerbitan Lafal Indonesia.

2 komentar:

mmursyidpw mengatakan...

Nampak seru banget ceritanya!

sanggar bunga padi mengatakan...

terima kasih, pak guru
imajinasi pengarangnya yg sangat luar biasa

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...