Rabu, 27 April 2011 By: sanggar bunga padi

Teman Kita, Siapa Dia


Dalam kehidupan bermasyarakat adalah sudah jamak dan alamiah jika kita mempunyai teman atau sahabat. Teman-teman kita itu tentu berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang. Agama, asal-usul, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Di antara teman yang kenal itu, entah sejak kecil atau bertemu ketika telah sama-sama dewasa, ada yang akrab dengan kita dan ada pula yang biasa biasa saja.

Teman akrab adalah seseorang yang secara khusus menempati sebagai perasaan suka kita dalam hati dan terekspresikan dalam perilaku tertentu yang mudah dibedakan deng­an seseorang yang biasa-biasa saja dalam pandangan kita. Teman akrab itu mungkin salah satunya adalah istri kita, dan lainnya adalah orang di luar rumah tangga kita.

Karena teman akrab mem­punyai hal khusus dalam hati dan perasaan kita, maka seringkali apa yang diingingkan oleh teman kita seolah menjadi sesuatu yang harus kita turuti. Begitu pula hal yang menjadi kebiasaan teman akrab kita, seringkali kemudian kita tiru, baik sadar maupun tidak sadar.

Teman akrab juga mendatangkan cinta dalam arti luas. Bila ia lawan jenis, maka cinta dapat berupa parasaan ingin memiliki sehingga terwujud dalam ikatan pernikahan. Bila ia sesama jenis, maka ada perasaan sangat memerlukan kehadirannya, entah untuk sekedar mengobrol atau hal lain. Teman akrab yang kita cintai secara tulus, seringkali adalah juga gudang penyimpanan rahasia kita. Johan Wolfgang von Goethe pernah berkata, “Kita dibentuk dan dibuat oleh apa yang kita cintai.”
Lantaran teman akrab sangat berpengaruh bagi kita, maka Is­lam mengajarkan agar berhati-hati dalam memilih teman. Tidak sembarangan orang yang dapat kita jadikan teman, karena penilaian tentang kitapun dapat dilihat siapa teman kita.
Allah swt. berfirman dalam Qs.An Nisa (4) : 9, “Dan barang siapa mentaati Allah Swt. dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah Swt, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”  Sementara itu Rasullulah pernah bersabda, “Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pedamping.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ahmmad)

Meski ayat 69 Qs. An Nisa’ di atas berkenaan dengan kerisauan seorang sahabat Anshar akan tempatnya di Akhirat (di syurga) nanti yang tidak lagi dapat bersama Nabi (karena derajatnya berbeda), namun pelajarannya dapat kita petik untuk menjadi tolak ukur teman yang baik, yang dapat dijadikan teman akrab. (lihat M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Vol. 2, h 479)
Pertama. Sebaik-baik teman dan pengaruhnya yang dapat kita terima adalah para Nabi. Dalam hal ini Muhammad Saw. Menjadikan Muhammad Saw. se­bagai teman akrab adalah dengan mengamalkan ajaran-ajarannya. Apa yang ia minta dalam ajaran itu, semampunya kita laksanakan. Secara fisik kita tak mungkin lagi akrab dengan Nabi Muhammad, tapi dengan mengkuti ajarannya berarti kita telah dibentuk oleh teman akrab kita itu. Dan ini adalah teman akrab yang paling benar.

Kedua, teman yang baik adalah para shiddiqin, yaitu orang-orang dengan pengertian apa pun selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternodai oleh kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentang dengan kebenaran. Tampak dipelupuk mata mereka yang haqk. Mereka selalu mendapat bimbimbingan Ilahi walau tingkatnya di bawah nabi dan rasul.

Ketiga, teman yang baik ada­lah syuhada, yakni mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan, memulai ucapan dan tindakan mereka, walaupun harus mengorbankan nyawanya sekalipun. Atau mereka yang disaksikan keberanan dan kebajikan oleh Allah Swt, para malaikat dan lingkungan me­reka.

Keempat, teman yang baik adalah orang-orang shaleh, yakni yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha mewujudkannya. Kalaupun sesekali ia melakukan pelanggaran, maka itu adalah pelanggaran kecil dan tidak berarti jika dibandingkan dengan kebajikan-kebajikan mereka.

Pencarian teman akrab dalam masyarakat, selain diarahkan agar diri kita selalu baik, juga perlu diberikan kepada anak-anak kita agar mendapatkan kawan akrab secara benar dan bermanfaat. Rasulullah bersabda, “Kawan pendamping yang shaleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium atau terpercikkan keharumannya. Sedangkan kawan yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya.”  (HR. Al Bukhari)

Dalam suasana pergaulan masyarakat dewasa ini yang sedemikian bebasnya, sungguh diperlukan kehati-hatian dalam mencari teman. Agar kita dan anak-anak kita tidak terjerumus dalam lingkungan yang salah dan menimbulkan penyesalan di hari kemudian.Allahu a’lam. (Zainul Arifin)

2 komentar:

Admin mengatakan...

Lapor,,, link sanggat bunga padi udah dipasang,,, maaf agak telat pak...
salam kenal dari Riau

sanggar bunga padi mengatakan...

terima kasih, pak
salamkenal kembali dari Wates, Kulon Progo
DIY

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...