Jumat, 07 Januari 2011 By: sanggar bunga padi

Mulailah Tersenyum

Ingatkah anda senyuman misterius Monalisa dalam lukisan Leonardo Da Vinci? Konon disebabkan misteriusnya senyuman itu, sehingga sampai saat ini masih banyak orang yang penasaran akan arti dan makna senyuman Monalisa tersebut. Benarkah demikian? Entahlah.

Senyuman merupakan salah satu bahasa tubuh yang pemaknaannya bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Tidak jarang sepotong senyuman menjadi penyebab kesalahpahaman. Contoh sederhana, dikeramaian ada seseorang yang tersenyum kepada anda, apa yang anda tangkap dari senyuman itu? Apakah dia sekedar bersikap ramah, atau orang itu menggoda anda, atau dia melihat sesuatu yang aneh dalam penampilan anda? Tentu anda akan menebak-nebak untuk memaknai senyuman itu atau bahkan kemudian mengacuhkannya.

Secara umum, seulas senyum yang menghiasi wajah kita biasanya menandakan kegembiraan. Seseorang yang suasana hatinya dipenuhi dengan kegembiraan maka ia akan mudah tersenyum. Sebaliknya, jika suasana hatinya penuh dengan kegelisahan dan kesedihan, kita akan jarang melihat ia tersenyum, dan seandainya pun kita melihatnya tersenyum barangkali itu senyum yang dipaksakan.

Berbeda dengan senyuman yang tulus, senyuman yang dipaksakan ini biasanya hanya sekedar untuk menunjukkan basa basi dan (terpaksa) sopan santun serta untuk memberikan kesan baik/sopan pada orang lain. “Pasar” senyuman terpaksa ini akan sering kita lihat setiap menjelang even pemilihan umum. Para politisi banyak mengumbar senyum (terpaksa?) dihadapan konstituennya agar dilihat sebagai calon yang ramah, sopan, suka senyum dan sebagainya agar dapat memenangkan pemilihan tersebut.

Senyuman yang demikian tidak memancarkan cahaya dari wajah orang yang tersenyum. Senyuman itu kering sebab tidak dari hati. Senyuman itu tidak menenteramkan hati yang menerima senyuman sebab tidak tulus. Senyuman itu tidak memberikan dampak positif psikologis bagi penerima senyuman. Secara ragawi, anda dapat mengenali senyuman terpaksa ini. Si pemberi senyum biasanya hanya menggunakan otot-otot sekitar bibir belaka, tanpa melibatkan seluruh wajah, apalagi hatinya.

Sedangkan, senyuman yang tulus akan melibatkan seluruh urat syaraf tubuh. Seseorang yang memeberikan senyuman tulus akan terlihat wajahnya yang memancarkan cahaya. Penerima senyuman itu akan merasa tenteram, bahkan mungkin melayang ke langit. Orang yang sedang sakit pun akan merasakan senyuman tulus sebagai obat yang mujarab bagi sakitnya. Senyuman yang tulus akan mampu merubah peradaban dunia menjadi lebih ramah, humanis dan berperadaban.

Mulailah setiap saat anda melemparkan sepotong senyum yang tulus kepada orang lain. Rasakan manfaatnya bagi diri anda sendiri. Lihatlah dampaknya bagi orang lain. “Senyum adalah ibadah,” kata Nabi Muhammad SAW.

1 komentar:

Mata _Hati_Bening mengatakan...

senyum keindahan pada seluruh mahluk ibarat sebuah mimpi,,tapi pasti indah bila ia menjadi nyata dlm setiap waktu,,hmm,,bagiku,itu masih mimpi,,hehehe..

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...