Kamis, 12 Juli 2012 By: sanggar bunga padi

Kitalah yang Mengendalikan Makanan

Dalam beberapa hari ke depan, tepatnya tanggal 20 Juli 2012 akan tiba waktu bulan Ramadhan 1433 H. Berarti dalam beberapa hari ini ke depan akan kita saksikan ritual-ritual tradisi di masyarakat berkenaan dengan penyambutan Ramadhan yang beraneka ragam. Pada intinya, semua ingin melakukan pembersihan ruhani agar masuk ke bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan bersiaga melaksanakan seluruh amal ibadah dengan sebaik-baiknya.

Pembersihan ruhani tidak bisa dilakukan secara kasat mata. Maka yang dilakukan adalah simbolisasi dari pembersihan itu dengan misalnya: mandi bersih secara ramai-ramai di suatu sungai atau danau. Juga di kolam renang umum. Yang lain datang berziarah kubur, membersihkan kubur sanak keluarga yang telah mendahului, berdoa untuk arwah mereka, seolah-olah membersihkan diri sendiri sebelum memasuki masa penyucian dosa di bulan Ramadhan dan sebelum menyusul ke alam baka. Atau mereka merasa perlu meminta maaf kepada sanak keluarga yang telah wafat itu akan kealpaan berziarah dan berdoa untuk mereka selama setahun yang lalu. Dengan demikian perasaan menjadi lega dan lapang. Meski hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kehadiran bulan Ramadhan.

Menjelang berakhirnya bulan Sya’ban ini, sesungguhnya yang terpenting bagi kita kaum muslimin adalah membajakan niat untuk benar-benar melaksanakan puasa Ramadhan secara sempurna. Kita berancang-ancang untuk mengakhiri pembicaraan-pembicaraan yang tidak bermanfaat, apalagi yang bersifat mengandung salah dan dosa. Jika hal ini tidak kita persiapkan benar-benar, bisa-bisa kebiasaan buruk itu akan tetap berlangsung selama bulan Ramadhan. Kalau hal itu terjadi, kata Rasulullah, untuk apa kita berpuasa?

Bukankah sudah sangat populer sabda Nabi Muhammad yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW mendengar seorang perempuan sedang memaki-maki jariyah (budak) kepunyaannya, padahal perempuan itu sedang berpuasa. Nabi mengambil makanan dan berkata kepadanya, ”Makanlah!” Perempuan itu berkata, ”Saya sedang berpuasa ya, Rasululllah.” Kata Nabi, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa, padahal telah kau maki jariyah-mu. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Allah telah menjadikan puasa sebagai penghalang – selain dari makan dan minum – juga dari hal-hal tercela, perbuatan atau perkataan yang merusak puasa. Alangkah sedikitnya yang puasa, alangkah banyaknya yang lapar.”

Tatkala kita melaksanakan puasa Ramadhan, sejatinya kita sedang melaksanakan dua hal : pertama, menahan diri dari segala sesuatu yang merusak, kedua, bahwa kita melakukan hal itu adalah dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. (Al-imsak ‘anil-mufthirat al-ma’hudat bi qashdi qurbah). Demikian defini puasa menurut para ahli fiqh.

Di dunia ini, ada orang yang tidak imsak ‘an dan imsak bi. Ia tidak dapat menahan diri dan tidak pula punya pegangan dalam mengarahkan kehidupannya. Orang ini hidup dalam kehampaan makna (nihilis). Dalam ekspresi sehari-hari dapat berupa pemujaan kepada kesenangan duniawi semata dan tidak percaya adanya kehidupan akhirat dan bersikap .

Puasa Ramadhan akan melatih kaum muslim mencerahkan ruhani dan akal budinya. Dengan cara menahan diri dari segala sesuatu yang merusak dan semua itu dilakukan semata karena mengharap ridlo dari Allah SWT. Dengan berpuasa, kita mengembalikan harkat kemanusiaan kita yang lebih mulia dari segala yang ada di dunia ini sebagai makhluk ciptaan Allah. Kitalah yang mengendalikan harta, bukan harta mengendalikan kita. Kitalah yang mengendalikan makanan, bukan makanan yang mengendalikan kita. Insya Allah.(Zainul Arifin/Pontianak)

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...