Selasa, 08 Mei 2012 By: sanggar bunga padi

Meluruskan Penyebutan Perayaan dalam Kalender Kita

Sebagai negara yang menghargai keberadaan agama-agama yang dipeluk warga negaranya, di Indonesia terdapat hari-hari libur nasional yang ditetapkan berdasarkan perayaan hari-hari besar keagamaan. Sesuai dengan kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, maka hari libur nasional berdasarkan perayaan hari besar Islam lebih dari satu, mulai dari Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad, Isra’ Mi’raj, Idul Fitri sampai Idul Adha.

Walaupun sesungguhnya perayaan-perayaan itu sebagiannya bukan merupakan bagian integral dari agama Islam sendiri, kecuali Idul Fitri dan Idul Adha, namun keberadaannya di masyarakat Muslim cukup dihargai sebagi sebuah warna pengamalan Islam dalam sejarah. Dengan perayaan-perayaan itu sebagian kaum muslimin merasa selalu diingatkan untuk menyegarkan kembali pengamalan agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya tatkala perayaan Maulid Nabi Muhammad tiba, kaum muslimin diingatkan untuk terus menerus mencoba menauladani perikehidupan Nabi Muhammad dengan semampunya.

Yang menarik dan perlu menjadi perhatian adalah bahwa dalam penamaan perayaan hari besar keagamaan itu, terdapat persinggungan antara kaum Muslimin dengan kaum Nasrani (Kristen dan Katolik). Sesungguhnya hal itu dewasa ini sudah mulai diperbaiki, atau dibetulkan, namun karena penamaan itu telah sangat lama dilalui, maka ia menjadi mindset pada sebagian besar masyarakat dalam penyebutannya. Yakni mengenai peringatan Wafatnya Isa Al Masih dan Kenaikan Isa Al Masih.

Dalam kalender yang betul yang beredar di masyarakat, sesungguhnya nama perayaan atau hari libur nasional keagamaan itu adalah Wafatnya Yesus Kristus dan Kenaikan Yesus Kristus. Penyebutan yang betul itu lebih baik dan terfokus pada umat yang memperingatinya, yaitu kaum Nasrani.

Sebab jika penyebutannya masih menggunakan nama Isa Al-Masih, maka seakan-akan ia berkaitan juga dengan agama Islam, karena Isa Al-Masih adalah salah satu nabi dalam Islam. Berbeda dengan kaum Nasrani, keberadaan Isa Al-Masih dalam Islam sebatas sebagai nabi dan rasul Allah Swt. Sedang kaum Nasrani memandang Isa Al-Masih sebagai tuhan dan populer disebut dengan Yesus Kristus (Jesus Christ).

Perbedaan yang juga cukup fundamental, yang selanjutnya harus diubah dalam mindset masyarakat Islam dan Indonesia khususnya, adalah bahwa menurut Islam, Isa Al-Masih tidaklah wafat atau meninggal sebagaimana manusia lainnya mengalami kematian seperti yang kita lihat sehari-hari. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Isa Al-Masih diangkat oleh Allah Swt, sedang orang yang disalib adalah seseorang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yang dikenal bernama Yudas Iskariot. Akan halnya bahwa kaum Nasrani meyakini bahwa yang wafat di tiang salib adalah Yesus, itu adalah ranah keyakinan mereka yang harus kita hormati.

Karenanya, penyebutan yang betul untuk hari libur nasional keagamaan, misalnya tanggal 6 April 2012 kemarin, dan nanti tanggal 17 Mei 2012 adalah Wafat Yesus Kristus dan Kenaikan Yesus Kristus, bukan Isa Al-Masih. Dengan penyebutan itu, menjadi jelas bagi kaum Muslimin bahwa perayaan itu adalah milik kaum Nasrani, tidak ada sangkut pautnya dengan kaum Muslimin.

Mungkin hal di atas dianggap kecil. Tapi secara faktual, di masyarakat, bagi generasi yang telah berusia lebih 20 tahun, penyebutan yang pertama masih sangat kental. Bahkan di lingkungan pendidikan agama Islam, seperti madrasah, guru-guru pun seringkali masih mengatakan kepada para murid bahwa hari libur tersebut adalah peringatan Wafat dan Kanaikan Isa Al-Masih. Hal itu terjadi karena penyebutan itu sudah sejak lama kita dengar. Padahal jika seorang anak muslim cukup kritis, maka ia akan bertanya, “Bukankah Isa Al-Masih tidaklah wafat? Mengapa ada peringatannya?”

Mungkin masih banyak hal-hal kecil yang sadar atau tidak sadar telah mewarnai mindset masyarakat pada umumnya, termasuk di lingkungan kaum Muslimin, meski mungkin hal-hal itu sesungguhnya salah atau janggal. Karenanya perlu kewaspadaan dan ketelitian dalam pengajaran agama Islam kepada anak-anak, agar terhindar dari campur aduk dengan ajaran agama lainnya. Begitu pula dalam pelajaran-pelajaran lainnya di sekolah. Allahu a’lam.(Zainul Arifin/Pontianak)

1 komentar:

dukungjosuke mengatakan...

mampir...
maju terus bunga padi..

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...