Anak 12 Tahun Membuat Dunia Terdiam Selama 6 Menit
Saat Severn bersekolah di Lord Tennyson Elementary School di French Immersion, pada umur 9 tahun, ia mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah grup anak-anak yang mendedikasikan diri untuk saling berbagi dan berdiskusi isu lingkungan hidup antar sesama anak.
Pada 1992, saat usianya 12, Cullis-Suzuki mengumpulkan donasi dari para member ECO untuk dapat menghadiri Earth Summit di Rio de Janeiro. Bersama anggota grup lainnya, Michelle Quigg, Vanessa Suttie, and Morgan Geisler, Cullis-Suzuki memaparkan isu lingkungan dari sudut perspektif anak kecil.
ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah isi pidato tersebut:
Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.
Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .
Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak.
Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali.
Orangtua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, ”Semuanya akan baik-baik saja, ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
http://99ratiz.blogspot.com
Selengkapnya...
Empat Waktu Orang Berakal
Kalau tidak salah, Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah di Yogyakarta pernah melakukan penelitian disambung dengan seminar tentang “Pemanfaatan Waktu Luang oleh Pelajar/Remaja”. Dari penelitian itu diperoleh temuan bahwa sebagian besar pelajar atau remaja tidak punya kegiatan untuk mengisi waktu luang yang senantiasa tersedia setiap hari. Mereka tidak punya ide, konsep atau kegiatan yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang diluar jam sekolah atau kuliah. Padahal waktu luang itu selalu ada setiap hari karena manusia tidak bekerja sepanjang waktu dalam sehari. Ada waktu-waktu di mana pekerjaan telah usai sementara waktu tidur belum tiba. Waktu-waktu luang itulah yang untuk sebagian pelajar atau remaja terbuang sia-sia. Padahal tidak ada waktu yang kembali setelah terlewati, tidak ada masa yang terulang setelah terbuang.(
Tentu banyak faktor yang dapat menyebabkan hal di atas terjadi. Misalnya, kondisi lingkungan atau pun budaya yang tidak mendukung bagi terciptanya pengisian waktu luang dengan bermanfaat. Pelajar atau remaja tidak mengisi waktu luangnya – baik yang tersedia setiap hari atau terlebih pada saat liburan sekolah – dengan membaca mungkin karena budaya membaca dan ketersediaan buku yang tidak mendukung. Celakanya lagi, kini hajaran tayangan televisi mengharu biru pelajar atau remaja di luar sekolah, sehingga mereka terpaku di hadapan sang kotak kaca itu. Maka waktu-waktu terluang pun berlalu bersama angin.
Apakah masalah di atas kini sudah berubah? Dugaan besarnya adalah : belum. Untuk pelajar atau remaja kelas menengah ke atas yang melek teknologi informasi mungkin memanfaatkan waktu luangnya dengan surfing di internet. Namun bagi pelajar atau remaja lapisan bawah dan yang tinggal di kawasan-kawasan terpencil, mengisi waktu luang laksana barang mewah, kalau tidak karena kemauan keras dan usaha sungguh-sungguh tidak akan tergapai.
Sungguh benar firman Allah dalam Qs. Al ‘Ashr ayat 1-3, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dalam firman tersebut, Allah menegaskan sungguh sangat bermaknanya waktu yang tersedia buat manusia. Tidak peduli apakah ia pelajar, remaja, orang dewasa atau orang tua. Apa yang terjadi pada remaja pada penelitian di atas sangat mungkin terjadi pula pada orang dewasa atau orang tua. Ada orang dewasa atau orang tua yang mempunyai banyak waktu luang tapi tidak tahu harus diisi dengan apa. Sehingga sebagian umur hidupnya berlalu sia-sia. Sebaliknya, ada orang yang sepanjang hidupnya seolah-olah sangat sibuk, tidak ada waktu terluang. Sehingga ia tidak dapat lagi memeriksa amal perbuatan dalam hidupnya sampai umur yang telah dilaluinya.
Imam Ahmad menuturkan, “Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya dalam hidup menjadi empat bagian. Bagian pertama adalah waktu di mana ia hanya berdua-duaan dengan Tuhan-Nya. Bagian kedua adalah waktu di mana dia menghitung segala amal perbuatannya di dunia sebelum dihitung di akhirat. Bagian ketiga adalah waktu di mana ia bersedia duduk bersama orang-orang yang bersedia menunjukkan kelemahan-kelemahan dirinya. Bagian keempat adalah waktu dimana ia menikmati kelezatan-kelezatan hidup yang diperkenankan oleh agama.”
Bagian pertama, shalat tahajud adalah waktu yang paling efektif. Bagian kedua, dalam istilah tasawuf disebut muhasabah. Bagian ketiga adalah waktu dimana kita berkumpul dengan orang-orang yang bersedia menunjukkan kelemahan-kelemahan kita dan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang harus kita perbuat, dalam istilah lainnya amar ma’ruf nahyi munkar. Bagian keempat misalnya dengan bermain-main (bercengkrama) dengan istri dan anak-anak.
Empat pembagian waktu di atas berlaku untuk setiap kaum Muslim. Sungguh munafik orang yang mengaku beriman namun tidak memberikan porsi waktunya untuk berdua-duaan dengan Allah Swt. Tidak mengerjakan shalat, baik wajib maupun sunnah termasuk tahajud. Nabi Muhammad SAW yang telah dijamin masuk syurga selalu menjaga waktu-waktu hayatnya untuk berdua-duaan dengan Allah, termasuk dengan shalat tahajud, di mana sebagian besar manusia terlelap tidur dalam gelap malam.
Orang beriman, agar tidak celaka sebagaimana disindir dalam Qs. Al ‘Ashr, harus senantiasa mengevaluasi jalan hidupnya. Socrates bilang, “Hidup yang tidak diperiksa, tidak layak dijalani.” Maka setiap orang harus bersedia untuk ditunjukkan kelemahan-kelemahan dirinya dan menerima advis untuk perbaikan hidupnya di masa depan.
Begitu pula seorang Muslim tidak boleh menyia-nyiakan kenikmatan yang diberikan Allah sebagai kelezatan dunia, sepanjang diperkenankan oleh agama. Misalnya bercengkrama dengan anak-istri. Orang sering mengabaikan hal ini. Sehingga anak-anak mencari kawan bergaul di luar kontrol orang tua dan dapat terjerumus ke lembah kejahatan. Istri yang “merana” karena sang suami sibuk sendiri, akhirnya mencari pergaulan di luar rumah. Salah-salah terjerumus ke pelukan lelaki lain. Tentu ini sungguh mengerikan.
Allahu a’lam.(Zainul Arifin) Selengkapnya...
Seberapa Kuatkah Daya Ingat Anda?
Kaca mata dimana? Kunci mobil ditaruh mana, ya? Laptop? Iklan yang menawarkan produk pulsa murah di telivisi swasta akhir-akhir ini cukup menggelitik, terlebih saat si bintang iklan tersebut ternyata masih memakai celana kolor saat berangkat kerja. Kejadian yang menimpa bintang iklan tersebut bukan tidak mungkin juga kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering lupa menaruh barang, lupa membelikan sesuatu yang sudah dipesankan istri/suami/anak, lupa kata-kata yang akan diucapkan, lupa ada rapat, dan sebagainya.
Pernahkah hal itu menimpa kita? Jika ya, berarti ada masalah dengan kemampuan daya ingat otak kita. Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, misalnya saja stress, depresi, kekurangan vitamin dan sebagainya. Kita tinggal mencari faktor penyebabnya, dan masalah ini dapat terselesaikan.
Nah, untuk mengetahui seberapa kuat daya ingat tersebut, mari kita lakukan tes sederhana ini. Seperti dikutip dari Howstuffworks, cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Mengingat tiga kata ini belimbing, televisi dan kambing.
2. Mengingat nama dan alamat ini: Bambang Jl. Ki Mangun Sarkoro No. 10 Yogyakarta
3. Apakah mengalami kesulitan dalam mengingat segala hal yang telah dilakukan selama beberapa minggu terakhir?
4. Apakah sangat sulit untuk mengingat daftar yang harus dilakukan?
5. Apakah mengalami penurunan kemampuan menghitung di kepala?
6. Apakah pernah mengalami lupa membayar tagihan?
7. Apakah kesulitan mengingat nama?
8. Apakah mengalami kesulitan mengenali seseorang yang seharusnya Anda kenali?
9. Apakah mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat untuk diucapkan?
10. Apakah mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana, seperti penggunaan microwave atau kompor gas?
11. Apakah mudah lupa ini mengganggu kinerja di tempat kerja?
12. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di rumah?
13. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di dalam kegiatan sosial?
14. Sebutkan tiga nama gubernur (menyebutkan 3 maksimal dapat 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
15. Sebutkan lima presiden terakhir? (menyebutkan 5 maksimal dapat 5 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
16. Apa menu makan malam selama dua hari yang lalu? (maksimal 6 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
17. Apa dua film yang terakhir Anda tonton? (maksimal 2 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
18. Tuliskan kembali tiga kata yang ada di awal tes? (maksimal 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
19. Tuliskan nama dan alamat yang ada di awal tes? (maksimal 2 poin, jika hanya nama atau alamat yang disebut dapat 1 poin)
Skor:
1. Nilai 1 poin untuk setiap jawaban tidak dan tidak mendapat poin jika jawabannya Ya. Untuk pertanyaan no 3-13 (maksimal nilainya 11 poin).
2. Untuk setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan benar atau ragu-ragu berilah nilai 1 poin. Untuk pertanyaan no 14-19 (maksimal nilainya 21 poin).
Hasil tes:
Nilai 28-32: daya ingat baik dan di atas rata-rata.
Nilai 22-27: daya ingat tidak terlalu buruk, tapi daya ingat bisa ditingkatkan dengan beberapa latihan.
Nilai 15-21: daya ingat agak lemah, usahakan untuk melakukan latihan dalam membantu meningkatkan daya ingat.
Nilai 0-14: daya ingat lemah, sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ke ahlinya.
Selengkapnya...
NUKILAN PETA BANGSA
SENYUM DARI RUANG TAK BERZAMAN
Senyum tetap menghias pergantian laju dua kaki tak bersandal
Mengejar artifak yang dikirim oleh lorong waktu
Di atas lumpur bekas lambaian dan hempasan ombak
di nukilan peta bangsa yang mempersembahkan ruang tak berwaktu
Seongak tanah karang yang ditumbuhi bunga-bunga bertunas mekar
Tapi di masa yang lain
Dari sela-sela tumbuhan bakau sering nampak keajaiban waktu
Penampakan manusia dan barang aneh dari zaman cucu dan cicit
Dari waktu putaran maju di nukilan peta bangsa di seberang
Waktu yang melahirkan protes kesenjangan
Sementara di pulau kecil dari lorong waktu zaman lampau;
dari belahan Melayu Melanesia itu
hanya ada poros waktu yang....
Berputar jika ada tangis bayi
dan tangis sedih ditinggal generasi tua
Meski ada senyuman terbesit
hanya karena didatangi barang kesombongan waktu
Tak ada amarah di sana
Karena tak kenal protes sosial, protes peradaban
protes-protes di jalanan dan ruangan-ruangan mewah
dan protes-protes di depan corong zaman
Kawan....!
Itulah potret sebuah konfigurasi waktu
dalam ruang bangsa yang berpeta (Saidi A. Xinnalecky)
14 Maret 2011 Selengkapnya...
Upaya Menemukan Kembali Kehangatan Yang Hilang
Prof. Dr. H. Muhammad Djawad Dahlan, guru besar Pasca Sarjana IKIP Bandung (sekarang UPI) dalam sebuah diskusi yang transkripnya disertakan dalam buku “Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern” (1994) mencoba menganalisis hilangnya kehangatan keluarga dengan mencoba mengingat masa lalunya. “Saya ingat masa kecil saya,” katanya. “Dan setelah saya tampilkan kembali tampaknya banyak yang hilang dari kehidupan keluarga kita. Kalau dulu kita selalu melihat ayah tidak pernah beranjak dari sajadah sebelum Isa, ayah dan ibu terlihat masih memegang tasbih sampai azan Isa lalu sholat berjamaah, ini salah satu yang hilang saat ini. Bisa dan tidak bisa itu soal lain, tetapi saya melihat banyak hal yang telah hilang. Sekarang kalau kita berkeliling di kota, sulit rasanya mendengar suara mengaji anak-anak ba’da Masgrib menjelang Isa.”
“Sekarang yang terdengar suara TV,” tandasnya. “Atau radio di kamar masing-masing. Sekarang ini kita sulit mencari anak-anak perempuan yang senang di dapur bersama ibunya, membantunya memasakkan untuk ayah, untuk anggota keluarga seluruhnya, jarang! Apalagi pada bulan Ramadhan, ibunya sibuk sendiri. Anak perempuannya kalau sudah selesai baru dibangunkan.
Dulu, sejak ibu bangun, anak perempuannya sudah diajak ke dapur. Kondisi seperti ini sudah hilang dari kehidupan kita, padahal dulu ayah selalu menjadi komandan, ‘Mari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan oleh Allah kepada keluarga kita, lalu Bismillah,’ makan bersama. Sekarang semuanya lari, segalanya ingin serba cepat. Kalau dulu si anak diberi nasehat oleh ayahnya si anak menundukkan kepala, sekarang membelalak. Bahkan sekarang terbalik, yang selalu memberi nasehat itu si anak kepada ayahnya.”
Kutipan ini agak panjang untuk menunjukkan betapa sesungguhnya banyak yang hilang dalam perjalanan keluarga kita. Memang kita tidak bisa menafikan terjadinya perubahan. Perubahan adalah sunnatullah. Namun perubahan yang mengarah kepada sesuatu yang tidak dikehendaki tidak bisa dibiarkan. Pola pengasuhan mungkin saja berubah, tapi disiplin seharusnya tetap ditegakkan. Entah karena meniru pola pengasuhan yang kebarat-baratan, atau takut dianggap melanggar HAM dan melanggar undang-undang perlindungan anak, banyak orang tua yang justru jerih kepada tingkah anaknya.
Banyak anak-anak keluarga muslim yang tidak lancar mengaji Al-Qur’an lantaran orangtuanya tidak pernah mengajarkan, memaksakan mereka untuk mengaji sejak kecil. Padahal kakek-nenek mereka dulu dengan keras mengajarkan, memaksakan kepada ayah-ibu mereka agar dapat mengaji dengan lancar. Dengan ukuran sekarang, yang lagi-lagi sudah berubah, disiplin mengajarkan dan memaksakan ngaji oleh sang kakek-nenek bisa dianggap sebuah kekerasan, namun justru itulah yang menimbulkan bekas sangat lama. Kelak anak-anak yang suka rewel itu akan mengenang dan berterima kasih kepada mereka karena dengan cara itu mereka bisa mengaji. Sekarang memang ada TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), tapi nilai kedalamannya tak bisa menandingi pengajaran yang dilakukan oleh orang tua sendiri.
Saya kira pertahanan keluarga yang kuat dapat dibangun dari tradisi mengaji di rumah ini. Kita masih bisa belajar dari para sesepuh, yang meskipun punya anak banyak (kadang lebih dari sepuluh), tapi kehangatan dan keharmonisan keluarga terpancar di sana. Di sini kepala keluarga sangat berperan, terlebih untuk urusan pengajaran dan pembinaan agama bagi anak-anaknya. Inilah yang agaknya semakin hilang dewasa ini. Akibatnya keluarga terasa rapuh, kering dan mudah runtuh. Suami mempunyai WIL (wanita idaman lain), istri membalasnya dengan mencari PIL (pria idaman lain), dan anak-anaknya juga mencari pil: ekstasi atau narkoba.
Prof. Djawad menyatakan bahwa untuk membangun kehangatan keluarga dengan landasan agama harus melalui latihan-latihan yang intensif. Disamping itu harus ada keberanian dari orang tua untuk tegas. Sekarang ayah atau ibu tidak berani mematikan TV, misalnya, ketika anak sedang menontonnya pada saat jam shalat tiba. Kelemahannya, orang tua tidak berani menyatakan sesuatu “inilah yang benar”. Ini merembet kepada hal-hal yang lain.
Kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai yang diserap seorang anak dalam pertumbuhannya. Apabila nilai-nilai agama banyak masuk ke dalam pembentukan kepribadiannya, tingkah lakunya akan diarahkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama itu. Disinilah keharusan orangtua menghidupkan kehangatan keluarga, agar anak-anaknya kerasan di rumah dan selalu rindu untuk pulang.
Kebersamaan telah disanjung sebagai salah satu dari idaman utama keluarga masa kini. Suami didorong untuk berbagi kewajiban rumah tangga dan tanggung jawab mengasuh anak bersama istrinya. Istri dianjurkan untuk mempelajari pekerjaan suami sehingga dapat menjadi pasangan yang mampu memberi bantuan nyata pada saat suaminya membutuhkan. Orang tua perlu mengetahui bahwa bila anak-anaknya beranjak remaja, diberi kesempatan ikut serta dalam pengambilan keputusan, tugas, dan rekreasi keluarga, sehingga keluarga itu akan menjadi keluarga yang hangat, keluarga idaman.
Tantangan keluarga modern saat ini memang dahsyat. Tapi jika kita mau cukup arif mengembangkan nilai-nilai yang baik yang pernah kita terima dari pengalaman orang-orang tua kita yang bersahaja dulu, rasanya keutuhan dan kehangatan keluarga masih dapat kita raih. Dan Gerakan Maghrib Mengaji bagi Masyarakat Indonesia yang digagas Menteri Agama adalah sebuah upaya strategis mengembalikan kehangatan yang nyaris sirna itu. Allahu a’lam.(Zainul Arifin) Selengkapnya...
Jurus Mudah Mengembangkan Otak Anak
Memiliki buah hati yang cerdas menjadi dambaan para orangtua. Namun perlu diketahui bersama oleh para orangtua, bahwa perkembangan otak anak perlu mendapat perhatian yang serius baik sebelum proses kelahiran maupun pasca kelahiran. Perkembangan otak akan memengaruhi kecerdasan anak di kemudian hari. Otak bayi mulai tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan, yakni ketika usia kandungan menginjak delapan minggu. Pada usia kandungan ini otak dan sel-sel saraf tumbuh dengan cepat dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga.
Lantas, apa yang mempengaruhi perkembangan otak anak? Menurut para psikolog ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan otak tersebut. Dr. Eddy Supriyadi, Sp.A, dari RS Sardjito Yogyakarta, menyebut ada dua komponen dasar dalam perkembangan otak anak, yaitu lingkungan yang aman dan nyaman, dan pengalaman positif yang diterima setiap hari. Dua faktor ini sangat penting mengingat pada saat bayi/anak merasa tertekan, otak akan merespon dengan menghasilkan zat kortisol. Kadar zat kortisol yang tinggi akan memperlambat perkembangan otak anak. Artinya, bayi/anak sebisa mungkin diusahakan dalam hidup dan kehidupannya untuk tidak merasa tertekan akan hidup dan kehidupan orangtuanya maupun lingkungannya.
Langkah sederhana, namun sangat penting, yang dapat dilakukan para orangtua adalah menghabiskan banyak waktu bersama dengan mengajak bayi/anak untuk tertawa, berbicara, bernyanyi, memeluk, membaca, dan bermain. Kegiatan yang dilakukan bersama-sama tersebut akan mempunyai banyak arti dan dampak positif bagi anak. Anak-anak akan merasakan kasih sayang dari pelukan orangtua. Anak-anak akan terasah kemampuan verbalnya dan kosa katanya bertambah banyak dari kegiatan berbicara, bernyanyi, dan membaca. Perasaan senang dan bahagia juga akan hadir dalam jiwa anak saat anak dan orangtua bermain bersama. Perasaan demikian akan menjadikan anak mampu untuk berpikir kreatif. Bahkan, anak akan belajar hal-hal yang membuat orangtuanya tertawa saat mereka bersama-sama tertawa. Orangtua pun akan belajar mengenali apa yg menurut anak lucu dan tertawa dari kegiatan ini.
Sedangkan, Dr. Eddy Supriyadi, Sp.A memberikan 10 tips bagi para orangtua untuk membangun dasar perkembangan otak anak:
1. Beri perawatan dan kasih sayang yang kuat selama masa kehamilan;
2. Beri nutrisi yang cukup. Enam bulan pertama kehidupan bayi, berikan kecukupan nutrisi dengan ASI;
3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak;
4. Berbicaralah kepada bayi. Buat kontak mata saat berbicara dengan anak. Jangan lupa selalu tersenyum kepada anak;
5. Bila harus menitipkan anak, carilah tempat penitipan yang bermutu tinggi;
6. Kenalkan aneka ragam musik pada anak, dan bernyanyilah bersama;
7. Beri interaksi yang nyata dengan anak demi perkembangan otaknya. Jangan biarkan anak menonton televisi terlalu lama. Batasi waktunya;
8. Beri ruang bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan teman sebaya;
9. Redakan stres pada orangtua. Orangtua yang mengalami stres cenderung mengalihkan stres kepada anaknya. Bila Anda merasa stres, cobalah bercerita kepada orang yang dekat dengan Anda;
10. Ingat, otak tidak akan pernah berhenti berkembang. Jadi, beri stimulasi sebanyak-banyaknya secara terus-menerus.
Berdasarkan hal-hal tersebut ternyata perkembangan otak anak dipengaruhi oleh pengalaman dan interaksi si kecil dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan yang baik memiliki peranan lebih besar dalam memengaruhi masa depan anak ketimbang faktor genetik.(dari berbagai sumber)
Selengkapnya...
Tukang Kayu dan Pohon
Naskah Drama ini dipentaskan Sanggar Bunga Padi di acara Kumpul Sanggar pada tanggal 10 Oktober 2010 bertempat di Rumah Bapak H. Toyo Santoso Dipo (Bupati Kulon Progo)Ide cerita dab naskah ditulis oleh pengelola sanggar: Wahyu Setyarini
Di sebuah desa di tepi hutan belantara, hiduplah tukang kayu yang hidup dengan membuat perkakas dari kayu. Tukang kayu ini mendapatkan kayu untuk bahan pekerjaannya dari hutan dekat rumahnya.
Pada suatu sore tukang kayu pulang dengan tergesa-gesa, meletakkan kayu bawaannya, Ia mengetuk pintu dan memanggil-manggil istrinya.
Tukang Kayu : bu...bu...bukakan pintu, bapak pulang( mengetuk pintu makin lama makin keras karena istrinya tidak mendengar)
Pintu I : Aduh.....sakit sekali...kenapa kau ketuk aku seperti ini ...( mengerang kesakitan)
Istri : iya pak sabar...(sambil membuka pintu)
Tukang kayu : kenapa lama sekali bu...(sambil meletakkan parang bawaannya ke almari)
Almari I : (menggerutu) huh! Mbok kalo ngletakin barangnya dengan cinta dong........
Istri : sedang mandi pak...itu makanan sudah siap, silahkan makan pak
Tukang kayu dan istrinya masuk ke ruang makan (keluar)
Babak II
Malam pun tiba. Dalam keheningan malam terjadilah perbincangan dari para korban tukang kayu.
Pintu I : sudah nasibku jadi begini.....waktu masih jadi pohon jambu aku sangat bahagia sekali....tiap sore anak-anak di kampung ini rame-rame naik ke dahan.... sekarang.....tubuhku dipotong-potong dijadikan pintu......nasib....nasib....
Almari II : nasibku juga sama denganmu sahabatku pohon jambu....sebagai pohon nangka yg cukup besar si tukang kayu itu memenggalku begitu saja....tanpa permisi lagi....
Pintu II : kita ini adalah kumpulan pohon yang senasib
Jendela : Iya benar...kalian tidak sendiri aku dulu pohon mahoni yang bermabfaat untuk mengobati malaria....sekarang aku selalu kesepian
Pintu II : kalian ingat tidak bagaimana sakitnya badan kita waktu dipotong-potong
Almari dan Jendela : wahhh...rasanya sakit...sekali...
Gergaji I : maafkan aku teman-teman...
Gergaji II : aku tidak bermaksud menyakiti kalian
Kapak : demikian juga dengan aku, yang hanya digunakan tukang kayu sebagai alat. Aku bener-benar tidak ingin menyakiti kalian
Almari I : kami maklum gergaji, kapak...
Jendela : iya, kami tidak menyalahkanmu kok
(sambil keluar semua pemain bernyanyi lagunya Bondan: apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu, janganlah kau bersedih, kita takkan meninggalkanmu)
Babak III
Sementara itu di hutan..
(pemain keluar sambil bernyanyi dengan nada lagu Anak Gembala-nya Tasya: aku adalah pohon yang kuat, selalu riang setiap saat tra la la la la la…..tra la la la la la…..)
Jati : aduh....badanku sakit sekali...sebentar lagi aku pasti roboh
Sengon : sabar ya...kami ingin membantu, tapi tidak tahu apa yang harus kami lakukan
Sawo I : memang kejam tukang kayu itu
Jeruk : lihatlah kawan...sebentar lagi aku akan kehilangan perlindungan karena jati roboh.kalau ada hujan deras dan banjir seperti tahun lalu, nasibku akan berakhir seperti rambutan, durian kecil, dan yang lainnya...hanyut terbawa derasnya banjir.
Sawo II : dan sayangnya tukang kayu itu tidak pernah menanam bibit pohon sebagai ganti kita...aku khawatir dengan masa depan bumi ini.
Semua menjadi terdiam karena sedih
(pemain keluar sambil bernyanyi dengan nada lagu Cangkul: aku…aku…aku si pohon, tubuhku kuat banyak manfaat)
Babak IV
Keesokan harinya tukang kayu kembali ke hutan. Dia melanjutkan menebang pohon jati yang belum selesai ditebangnya kemarin.Jati dengan kesakitan mmembungkuk dan lama-lama jatuh. Kapak dan gergaji merasa sangat bersalah pada pohon jati. Sebaliknya tukang kayu pulang dengan senyum, membawa kayu jati hasil tebangannya.
Suasana hening di rumah tukang kayu
(pemain masuk sambil bernyanyi dengan nada lagu keong racun:Dasar kau tukang kayu, Tiba-tiba e nebang aku, Kau potong diriku, Kau rusak diriku, Malangnya nasibku..)
Almari I :Kita harus melakukuan sesuatu
Almari II :apa maksudmu
Almari I :pokoknya kita harus berbuat sesuatu
Jendela I :kita harus bikin rencana
Jendela II : rencana apa? Apa yang bisa kita lakukan?
Pintu I : aku ada ide, bagaimana bila kita boikot tukang kayu
Pintu II : caranya?
Pintu I : ya...kita jangan mau di buka..kamu, nanti kalau tukang kayu pulang, diam saja, jangan mau dibuka, jendela juga sama. Almari, kalau bu tukang kayu mau memakaimu, jangan pula kau buka pintumu...biar tahu rasa..
Gergaji I : lantas apa yang dapat kami lakukan?
Pintu I : kalian gergaji dan kapak, jangan mau dipakai untuk menebang, kamu mau kan berkorban...gosokkan mata gergaji dan kapakmu agar tumpul sehingga sulit untuk bekerja
Kapak II : ya kami mau... besok pagi semua siap, pintu.
(pemain masuk sambil bernyanyi dengan nada lagu keong racun:Dasar kau tukang kayu, Tiba-tiba e nebang aku, Kau potong diriku, Kau rusak diriku, Malangnya nasibku..)
Babak V
Sementara itu di hutan terjadi perundingan yang sama. Pohon-pohon prihatin dengan hilangnya teman-teman besar mereka, mereka jadi tidak punya pelindung..padahal ini mulai masuk musin hujan, bila terjadi banjir, semua akan musnah terbawa arus. Hutan ini kan gundul....!!
(pemain masuk sambil bernyanyi nada abang tukang bakso: Abang tukang kayu, Jangan tebang aku, Aku ingin hidup, Boleh tebang aku, Tapi jangan lupa tanamlah bibitku)
Sawo I : Teman-teman kita harus berbuat sesuatu agar tidak hanyut bila banjir nanti
Sengon : setuju, tapi bagaimana caranya?
Sawo I : ayo kita berbuah sebanyak-banyaknya agar tumbuh biji baru yang menjadi penerus kita nanti..aku akan bicara pada angin dan kelelawar untuk membawa buah kita pergi agar merata ke semua penjuru hutan ini...bagaimana?
Jeruk, sengon,dll : setuju.....
Babak VI
Pagi ini tukang kayu bangun dan bersiap akan kehutan melakukan pekerjaannya, akan tetapi..
Istri : Pak...kenapa jendela ini susah dibuka...(sambil berusaha membuka jendela)
Tukang kayu : coba aku bukakan ( membuka jendela)..wah memang sulit bu..
Kemudian pak tani beranjak ke almari untuk menyiapkan peralatan menebang pohon
Tukang Kayu : bu..bu...kenapa almari ini susah sekali dibuka.....kau taruh dimana kuncinya?
Istri : aku tidak menguncinya pak...coba di buka lagi
Tukang kayu : tetap tidak bisa bu ( sambil menarik pintu almari)
Istri : coba pakai linggis pak..
Tukang kayu hendak keluar rumah mengambil linggis, tetapi...
Tukang kayu : bu...bu...kenapa pintu ini susah di buka?bagaimana ini?
Akhirnya tukang kayu tidak dapat keluar rumah karena pintu, tidak mau di buka...Malam harinya, hujan deras mengguyur.karena derasnya dan sungai tak mampu menampung air karena pohon-pohon besar telah ditebang tukang kayu. Lama kelamaan air masuk ke rumah tukang kayu yang membuatnya panik. Apalagi pinti tidak bisa dibuka sehingga tukang kayu dan keluarganya tidak bisa menyelamatkan diri. Tukang kayu dan istrinya berfikir keras....mengapa semua ini bisa terjadi. Akhirnya dengan menyesal tukang kayu menyadari bahwa ini adalah akibat perbuatannya sendiri.
Selengkapnya...
Waktu Mundur yang Terbaik
Kekuasaan memang menggiurkan. Begitulah yang terjadi sejak dahulu kala. Raja-raja dan pemimpin bangsa berusaha bertahan dengan berbagai cara, agar tahtanya tidak lenyap dari pundaknya. Menjadi berkuasa berarti memenuhi aktualisasi diri ke tingkat yang tinggi dalam piramida kehidupan manusia versi Abraham Maslow. Dalam keadaan demikian, adalah wajar jika tidak ada orang yang secara suka rela, tulus ikhlas, melepas kekuasaan yang tengah dipegangnya. Jika pun harus melepas, maka biasanya karena ada peraturan yang membatasinya. Misalkan peraturan itu bisa dikendalikan untuk melanggengkan kekuasaannya, niscaya dia akan tetap dalam posisinya.
Iming-iming finansial tak pelak berpengaruh pada mengapa seseorang enggan turun dari panggung kekuasaan. Selain itu perasaan diri sebagai orang hebat, karena mampu mengalahkan para saingan dan mengendalikan banyak orang lain di bawahnya, adalah faktor kedua yang juga cukup signifikan. Faktanya, ada saja orang yang mengatakan bahwa organisasinya, bangsanya, tidak memberikan keuntungan finansial apa-apa kepada dirinya, toh ia tetap berteguh berada di pucuk pimpinan. Jangan bicara soal kekuasaan yang mendatangkan fulus, uang, itu sudah pasti bak kata pepatah, ”ada gula ada semut”. Dan semut yang sudah menguasai gula itu, mana rela melepaskannya begitu saja.
Kekuasaan juga sangat dekat dengan popularitas. Makin besar jangkauan kekuasaan yang didapatnya, makin populerlah ia di tengah-tengah masyarakat. Popularatis itu akan dapat mendatangkan previlege (hak istimewa) dan kesenangan batin tatkala banyak orang memuja-mujinya sebagai seorang tokoh.
Namun sungguh ketokohan itu sejatinya lebih pada integritas pribadi seseorang. Bukan pada kekuasaan yang dipegangnya. Berapa banyak para penguasa, tokoh-tokoh yang sebelumnya diagung-agungkan akhirnya terpuruk dalam kejatuhan yang fatal. Saat ini di dalam negeri dan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, tokoh-tokoh penguasa yang dahulu pernah disanjung-sanjung sedang menuju titik nadir. Tetapi kekuasaan, apalagi yang direngkuh dengan susah payah, selalu merayu untuk dipertahankan. Gambar-gambar para tokoh, para penguasa itu diperlakukan secara sadis. Padahal lazimnya gambar-gambar itu dipasang di rumah-rumah atau kantor-kantor dalam posisi yang mulia. Kekaguman orangpun berganti dengan kebencian.
Pada suatu kesempatan berbincang dengan H. AR Fakhruddin (mantan Ketua PP Muhammadiyah) saya bertanya secara lugu, siapakah sosok yang dikaguminya, ia menyatakan Nabi Muhammad SAW. “Karena beliau memang teladan bagi semua orang, terutama bagi kaum Muslimin, dan beliau sudah meninggal,” kata Pak AR, sapaan akrabnya. Bagian akhir ungkapan itulah yang cukup menarik, yakni bahwa karena beliau telah meninggal dunia. Dalam penjelasannya, Pak AR mengatakan, karena orang yang dikagumi itu telah meninggal dunia, maka tentu tak ada peluang lagi untuk berubah. Jika orang telah meninggal dunia, ia tinggal dikenang karena kebaikannya atau karena keburukannya.
Dalam sebuah hadis shahih riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu mengagumi amal seseorang sehingga kamu dapat menyaksikan hasil akhir kerjanya (amalnya).” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir/8025, Musnad al-Syihab al-Qadlo’i/941). Hadis ini tentu saja tidak menghalangi orang yang ingin menulis riwayat seseorang yang patut dijadikan tauladan. Dengan maksud mendorong pembacanya menirukan atau mengambil spirit kemajuan atau perjuangan hidup yang dialami orang yang ditulis. Hal yang ingin ditegaskan dalam hadis ini adalah bahwa orang tidak boleh mengagumi begitu rupa seseorang, apalagi bila orang itu masih hidup, karena riwayat hidup seseorang sebelum meninggal masih dapat berubah setiap saat. Orang yang semula dikagumi karena kejujurannya, bila ia masih hidup, mungkin saja suatu saat “terjebak” berbuat curang, sehingga melunturkan kehebatan prestasi sebelumnya.
Manusia tidak pernah tahu bilakah ia akan meninggal. Karenanya ia tidak bisa mengandalkan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya kemudian berhenti berbuat sembari menghitung bahwa pahalanya sudah cukup sebagai bekal di akhirat kelak. Sebuah pelajaran dapat ditarik dari cerita ini : seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.
Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekadarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya. Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. ”Ini adalah rumahmu,” katanya, ”hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah hal yang dapat saja terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan. Seandainya kita menyadarinya sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Bayangkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Dan waktu untuk mundur yang terbaik adalah tatkala kita berada pada prestasi yang baik, atau tatkala integritas pribadi kita masih dapat dibanggakan. Allahu a’lam. Zainul Arifin
Selengkapnya...
Rajiman Pergi Ke Kota
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Rajiman begitu terobsesi dengan lampu-lampu yang gemerlap yang biasa dilihatnya di layar teve tetangga yang memiliki genset sendiri. Sebagai warga transmigran, ia memang belum pernah ke kota. Sejak kecil ia di besarkan di wilayah perairan. Begitu keluar dari kelas empat sekolah dasar, ia langsung turun ke sawah membantu simbok[1]nya yang telah renta. Rajiman, memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk pergi ke kota, walau hanya sekedar untuk jalan-jalan saja. Bagi Rajiman, membantu simboknya di sawah adalah segala-galanya. Sawah adalah sumber penghidupan mereka.
Namun, sejak tetangganya mengganti teve hitam putih menjadi teve berwarna dua bulan yang lalu, pandangan Rajiman tentang sawahnya berubah total. Melalui layar teve berwarna, Rajiman jadi tahu betapa gemerlapnya kota. Sementara sawah, baginya saat ini, merupakan sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Ia menjadi enggan ke sawah.
Rajiman menjadi murung dan gampang uring-uringan. Ia begitu ingin ke kota. Ia ingin ke Palembang dan melihat lampu-lampu di bundaran air mancur. Ia juga ingin melihat lampu-lampu di Taman Kambang Iwak. Singkat cerita, ia ingin ke tempat-tempat yang banyak lampunya.
Satu hal yang juga sangat ingin dilihatnya adalah kendaraan roda empat yang dinamakan dengan mobil. Sejak lahir hingga usianya sudah mencapai lebih dari 25 tahun, belum sekalipun ia melihat mobil. Di Kampungnya yang nun jauh di sana, mobil memang belum ada. Ia tahu mobil hanya melalui sinetron yang sering ditontonnya di teve. Rajiman juga terobsesi dengan mobil. Di benaknya mobil adalah benda mewah yang begitu ingin dicobanya. Ia sudah bosan nunggang sepeda kumbangnya. Ia sebel dan tidak mau mengayuh pedal sepeda lagi. Baginya, sepeda adalah benda yang memalukan dan harus ditinggalkan.
”Mbok, aku pengen ke kota,” kata Rajiman pelan kepada simboknya di sore itu.
Simboknya hanya diam dan menghela napas dalam. Ada bulir-bulir air mata di pelupuk matanya yang sudah mulai rabun tersebut. Ingin ditahannya perasaannya yang ngilu mendengar keinginan anak lelaki semata wayangnya itu. Ia ingin kelihatan tegar. Namun, ia terlalu sedih. Akhirnya, ia menangis tanpa bersuara.
Rajiman bukannya tidak tahu bahwa simboknya menangis. Baginya, tangisan simboknya tak ada artinya bila dibandingkan dengan keinginannya yang sangat kuat untuk pergi ke kota. Ia sudah membulatkan tekadnya. Ia harus ke kota, apapun resikonya.
”Mbok, aku pengen ke kota!” ulang Rajiman. Kali ini dengan intonasi yang tegas. Ada kesan bahwa ia tidak mau dihalangi.
Simboknya tetap diam dan tetap menangis tanpa bersuara. Matanya yang rabun itu semakin meredup. Ia ingin berkata tapi tak mampu. Ia terlalu sayang dengan Rajiman sehingga tak sanggup untuk melepaskan kepergian Rajiman ke kota.
”Mbok, aku pengen ke kota besok!” tegas Rajiman dengan berapi-api. Sementara air mata simboknya sudah tak dapat ditahan-tahan lagi. Pertahanannya jebol. Ia menangis meraung-raung dan berguling-guling di lantai rumah panggungnya.
Melihat kondisi simboknya yang begitu histeris, Rajiman cuma tersenyum aneh. Ia berdiri dari duduknya dan menuju ke belakang. Ia ingin mandi dan menyegarkan badannya yang terasa letih. Ia ingin cepat-cepat tidur sebab besok pagi ia akan pergi ke kota.
Esoknya, subuh-subuh Rajiman sudah bangun. Dilihatnya simboknya sudah di dapur menjerang air. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia sarapan semangkuk mi instan dan secangkir wedang jahe yang dibuatkan simboknya.
”Mbok, aku mau pamit ke kota!” ucap Rajiman acuh tak acuh.
Simboknya cuma diam.
”Mbok.....!”
Tak ada jawaban
”Mbok....!”
Simboknya tetap diam.
Rajiman dongkol dan tanpa berkata-kata lagi ia segera menenteng tasnya dan pergi menuju dermaga speedboat di muara sungai. Cuaca sebenarnya kurang mendukung. Langit terlihat gelap, pertanda akan turun hujan lebat. Namun, Rajiman tak peduli. Ia naik speedboat dan meninggalkan dermaga yang sudah terlihat mulai reot.
Hujan lebat akhirnya benar-benar turun. Angin bertiup kencang. Petir sambar menyambar. Ombak di Sungai Musi meninggi. Akhirnya, speedboat yang dinaiki Rajiman karam. Rajiman tenggelam dan hilang terbawa arus Sungai Musi yang deras. Hingga saat ini, jasadnya belum juga ditemukan. Sementara simboknya cuma bisa terdiam dan menangis tanpa bersuara ketika dikabari bahwa Rajiman mengalami kecelakaan dan jasadnya belum ditemukan. Irwan P. Ratu Bangsawan
Selengkapnya...
SI TAMPOK PINANG
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang janda yang tinggal di sebuah hutan yang besar. Janda tersebut hidup sendirian setelah ditinggal oleh suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Ia sangat mendambakan seorang anak. Suatu hari, ia pergi ke belakang rumahnya. Dilihatnya sebuah tampok pinang. Ia pun berdoa agar diberikan seorang anak walaupun hanya sebesar tampok pinang itu.
Beberapa bulan kemudian, ia baru menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang anak. Ia merasa amat bahagia. Ia menganggap bahwa doanya benar-benar terkabul. Setelah beberapa bulan, anak yang dinanti-nantikannya pun lahir. Namun, alangkah terkejutnya janda tersebut melihat anak laki-lakinya itu hanya sebesar tampok pinang, sama persis dengan doa yang ia ucapkan waktu itu. Anak laki-lakinya itu dipanggil Si Tampok Pinang.
Waktu terus bergulir. Namun, Si Tampok Pinang masih saja sebesar tampok pinang. Setelah dewasa,Si Tampok Pinang diusir oleh ibunya sendiri karena ia malu memiliki anak .yang sangat kecil. Dengan sedih, Si Tampok Pinang meninggalkan ibunya dan pergi tanpa arah.
Di tengah jalan, ia melihat sebuah tenunan yang terjatuh dari atas maligai. Ternyata, tenunan itu milik seorang Putri yang sangat rupawan yang tinggal di atas maligai. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat ada seorang yang menemukan tenunan itu. Ia pun mengajak orang tersebut, yaitu Si Tampok Pinang, untuk naik ke atas maligai karena Si Putri telah berjanji bahwa barang siapa yang menemukan tenunannya itu, jika laki-laki akan dijadikan sebagai suami, sedangkan jika perempuan akan dijadikan saudaranya.
Alangkah terkejutnya Si Putri ketika melihat bahwa laki-laki yang menemukan tenunannya itu hanya sebesar Tampok Pinang. Diusapkanlah Si Tampok Pinang ke rambut Si Putri yang sangat panjang itu. Secara ajaib, Si Tampok Pinang berubah menjadi pangeran yang tampan dan rupawan. Tentu saja memiliki tubuh yang normal layaknya manusia pada umumnya. Si Putri pun jatuh cinta kepada Si Tampok Pinang. Begitu juga sebaliknya. Sejak pertama kali melihat Si Putri, SiTampok Pinang langsung jatuh hati kepada Si Putri. Sesuai dengan janji Si Putri, mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan. Untuk itu, Si Tampok Pinang mengajak Si Putri untuk bertemu ibunya yang sudah mengusirnya dari rumah. Dia ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya karena sebenarnya ia masih sangat sayang kepada ibunya.
Awalnya, sang ibu tidak percaya bahwa lelaki yang tampan itu adalah anaknya sendiri, Si Tampok Pinang. Setelah dijelaskan Si Putri, ibunya pun percaya dan merasa sangat bahagia. Tentu saja sang ibu menyetujui rencana pernikahan anaknya itu dengan Si Putri. Ibu Si Tampok Pinang pun melakukan berbagai persiapan yang besar untuk membuat pesta pernikahan yang sangat meriah. Selama persiapan itu, Si Putri naik ke atas maligai untuk menunggu hingga hari pernikahan nanti.
Layaknya kebiasaan yang ada, ibu Si Tampok Pinang mengajak orang-orang yang ada di dusunnya untuk memasak makanan untuk acara pesta pernikahan anaknya. Banyak orang yang diajaknya, termasuk juga Si Kenam. Si Kenam adalah seorang perempuan yang berhati jahat dan juga buruk rupa. Diam-diam, dia juga jatuh hati akan ketampanan yang dimiliki oleh Si Tampok Pinang.
Pada acara masak-memasak, Si Kenam mendapat tugas untuk mengambil air di sungai. Akan tetapi, ia tidak mau karena ia merasa tidak pantas untuk melakukan pekerjaan itu. Ketika seseorang memberinya sebuah ember untuk mengangkut air, ia selalu memecahkannya. Hal itu dilakukannya berulang kali. Sampai akhirnya, orang-orang tidak memberinya ember lagi, melainkan sebuah kelingan. Kelingan adalah suatu wadah yang terbuat dari kulit sapi yang tidak bisa pecah, kecuali jika digigit anjing.
SI Kenam tidak kehilangan akal. Dia pun memanggil anjing untuk mengigit kelingan itu. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat perbuatan itu dari atas maligai. Dia merasa geli dan akhirnya tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Si Kenam itu. Namun, itulah awal dari kekacauan yang besar. Entah kenapa, Si Kenam terkena sinaran cahaya dari Si Putri yang kemudian tiba-tiba membuatnya menjadi perempuan yang sangat cantik, sama persis seperti Si Putri. Namun sebaliknya, Si Putri menjadi seseorang yang sama persis seperti Si Kenam.
Melihat penampilan barunya itu, Si Kenam merasa sangat senang dan menjadi semakin sombong. Saking sombongnya, ia menyuruh Si Putri untuk turun dari atas mahligai. Lain halnya dengan Si Putri. Dia menjadi stres karena memikirkan keadaannya sekarang. Karena merasa sangat terkesan ia mengacak-mengacak mukanya hingga menjadi tidak karuan. Akhirnya , ia turun dan bertemu dengan Si Kenam yang sudah menjadi secantik dirinya dulu. Mereka melakukan suatu pertukaran tugas. Si kenam akan menjadi “Si Putri” yang tinggal di atas maligai, sedangkan Si Putri akan menjadi “Si Kenam”. Mulai saat itu, Si Putri melakukan tugas seperti yang dilakukan oleh Si Kenam waktu itu.
Setelah beberapa waktu, orang-orang sekitar merasa aneh dengan perilaku “Si Kenam” yang sekarang. Ia menjadi seorang yang penurut dan baik hati.
Waktu pernikahanpun semakin dekat. Si Putri Kenam yang sekarang berada di atas maligai disuruh turun untuk melaksanakan pernikahan dengan Si Tampok Pinang di dusun seberang yang melewati laut. Si Putri” alias Si Kenam di suruh orang-orang untuk memanggil angin agar bisa menyeberangkan kapal ke seberang dusun. Hal itu adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan bagi seorang putri yang tinggal di atas maligai. Ketika Si Kenam memanggil angin, entah kenapa bau busuk datang menyengat. Sementara itu, dari kejauhan Si Putri memanggil angin untuk bisa menyeberangkan orang-orang ke seberang dusun. Kali ini, bau harumlah yang datang menghampiri. Seluruh rombongan naik kapal untuk pergi ke dusun seberang. Setelah sampai, mereka semua turun, termasuk juga “Si Putri” alias si Kenam.
Setelah menikah, “Si Putri” alias si Kenam tinggal bersama Si Tampok Pinang. Di sisi lain, Si Putri disuruh untuk menjaga padi milik Si Tampok Pinang. Ia menjaga padi dengan baik sambil menenun. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang hendak memakan padi itu, ia pun menembangkan suatu lagu yang intinya, jika burung itu memakan padi itu, ia akan dibunuh oleh pemilik sawah itu. Tiba-tiba, Si Putri kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Ia pun merasa sangat senang.
Dari atas maligai, Si Kenam mengintip dan merasa bingung akan kejadian itu. Tak disangka-sangka, ternyata Si Tampok Pinang mendengar suara dari tembang yang dinyanyikan oleh Si Putri itu. Ia sangat mengenali suara itu. Ia pun menyadari bahwa putri yang bersamanya itu adalah putri palsu. Karena perbutannya, Si Kenam diusir dari dusunnya. Si Tampok Pinang kembali mengajak Si Putri untuk menikah. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.(Irwan P. Ratu Bangsawan)
*) Cerita rakyat ini berasal dari daerah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan
Selengkapnya...
